Senin, 27 September 2010

Persebaran Negara Pemilik Teknologi & Senjata Nuklir






Sumber : KSB World Radio


Kepemilikan nuklir ternyata tak segampang memiliki sumber energi lain. Dominasi dan penguasaan dari sejumlah negara super power, membuat upaya memilikinya seperti kucing-kucingan. Baik untuk alasan pertahanan dan keperluan sipil, hak untuk menggunakannya, apalagi untuk senjata nuklir, sungguh-sungguh rumit.

Jelas sudah, ancaman senjata nuklir tidak main-main. Perang Dunia sudah membuktikan ketika AS menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tidak hanya meninggalkan kehancuran fatal, tapi juga kerusakan hebat secara biologis dan psikologis. Baik kepada manusia dalam radius luas maupun jenis kehidupan biologis lainnya si areal yang sama. Trauma itu terus melekat dari generasi ke generasi berikutnya. Sejak itu pula senjata nuklir menjelma sebagai salah satu alat ampuh dalam politik internasional yang memicu perlombaan senjata nuklir.

Di sisi lain, Penyerahan Jepang memang satu bukti konkrit betapa cepatnya senjata nuklir bisa menyelesaikan perang yang berlarut-larut. Diawali dari dijatuhkannya bom pertama di Hiroshima yang membuat rakyat setempat menjadi korban pertama bom atom. Tiga hari kemudian disusul bom kedua di Nagasaki. Kedua bom mempunyai daya ledak setara dengan 15.000 ton TNT (trinitrotoluene). Hanya berselang lima hari setelah itu, Jepang menyatakan kalah perang. Artinya, hanya dengan dua kali pukulan bom atom mampu menghentikan sebuah perang besar.

Amerika Serikat, memulai program nuklirnya setelah presiden Amerika menerima surat dari Einstein bahwa Nazi Jerman sedang mengembangkan senjata nuklir dengan mengambil alih tambang uranium Cekoslovakia setelah meninvasi negara tersebut, maka dimulailah Proyek Manhattan dan bom nuklir pertama Amerika selesai pada 16 juli 1945 dengan diledakkan Trinity, bom berdaya ledak 19 kiloton, sejatinya bom nuklir Amerika akan digunakan untuk menghancurkan Jerman tapi Jerman lebih dahulu kalah perang sebelum bom nuklir Amerika selesai. diperkirakan Amerika memiliki hulu ledak nuklir sebanyak 10240 unit. selama ini Amerika telah melakukan tes peledakan bom sebanyak 1030 kali tes.

Jadilah Amerika selama beberapa tahun menjadi satu-satunya penguasa senjata nuklir, Terpukau dengan kemajuan teknologi atom ini, seperti diketahui, Uni Soviet berupaya keras menyadap teknologi yang mengerikan ini, Dengan berbagai cara dan kerja mata-mata di AS seperti Klaus Fuchs, Soviet akhirnya memperoleh kemampuan untuk mengembangkan kemampuan nuklir secara mandiri. Sebetulnya, periode inilah yang menandai dimulainya perlombaan senjata nuklir. Empat tahun setelah tragedi Hiroshima, pada 29 agustus 1949, Soviet langsung menguji coba bom atom pertamanya Joe 1 berkekuatan 22 kiloton. Setahun kemudian, soviet bahkan sudah mampu menciptakan bom atom dengan daya ledak mencapai 25 juta ton TNT. Kemampuan itu terus meningkat ketika sebuah monster diciptakan dengan daya ledak 56 megaton. Saat ini Russia dipercayamemiliki 8400 hulu ledak nuklir, Russia melakukan tes peledakan bom nuklirnya sebanyak 750 kali.

Britania Raya, Melakukan uji coba senjata nuklirnya pada 03 oktober 1952 bersandi “Hurricane”, Program senjata nuklir Britania Raya dikerjakan dengan data yang sebagian diperoleh dari hasil kerja sama dengan Amerika dalam “Proyek Manhattan” . Britania Raya dipercaya memiliki hulu ledak nuklir sebanyak 200-300 hulu ledak nuklir. Britania Raya melakukan tes peledakan sebanyak 45 kali.

Perancis Dipercaya, Memulai program nuklirnya dengan bantuan dari ilmuwan yahudi/Israel, Perancis sukses meledakkan bom atom pertama bersandi “Gerboise Blue” pada 13 februari 1960, bom berdaya ledak 60 kiloton tersebut diuji coba digurun sahara. Perancis memiliki setidaknya 350 hulu ledak nuklir. Perancis melakukan tes peledakan nuklirnya sebanyak 210 kali.

Cina, Memulai program nuklirnya dengan bantuan sekutu komunisnya Uni Soviet, Menguji coba peledakan bom nuklirnya pada 16 oktober 1964 bersandi “596?, dan pada 17 juni 1967 cina meledakkan bom Hidrogennya di lop nur, daerah pengunungan Himalaya, tempat yang dahulunya selalu dibantah Cina di forum-forum internasional, saat ini diperkirakan Cina memiliki sekitar 390 hulu ledak nuklir. Cina melakukan tes peledakan nuklirnya sebanyak 45 kali.

India, Sudah ditahun 1950-an ahli fisika nuklir pertama di Asia, Homi Babha, merintis teknologi itu, tahun 1964 India sudah merencanakan percobaan senjata buklir. PM Lal Bahadur Shastri memutuskan untuk melakukannya di tengan ketegangan perbatasan dengan Cina. Namun percobaan itu dibatalkan dan baru dilaksanakan PM Indiran Ghandi pada 18 mei 1974 dengan sandi ” Smiling Budha”. saat ini India diperkiran memiliki hulu ledak nuklir sebanyak 60-90 unit. India melakukan tes peledakan nuklirnya sebanyak 6 kali.

Pakistan, Progran pembuatan bom ini digariskan Ali Bhutto januari 1972 begitu presiden Pakistan itu melihat tanda-tanda India berhasil membuat bom nuklir, Modal Pakistan ketika membangun impian nuklir adalah sebuah reaktor riset Institut Sains dan Teknologi Nuklir di Nilore tak jauh dari Islamabad yang dibangun tahun 1965. Kendati kapasitasnya

Pakistan melakukatak seberapa, reaktor ini adalah bukti nyata bahwa Pakistan sudah mengenal teknologi nuklir. Tahun 1973 Pakistan merencanakan pengembangan reaktor ini dengan membeli bahan bakar plutoniumdari Perancis. konon, ini bisa dilaksanakan berkat bantuan dana dari Libya. Beberapa sumber menyatakan Pakistan melakukan uji coba peledakan bom nuklir pertamanya pada tahun 1987, namun baru melakukan peledakan secara terbuka pada 28 mei 1998 beberapa hari setelah India melakukan peledakan nuklirnya. saat ini Pakistan dipercaya memiliki sebanyak 30-52 hulu ledak nuklir.n tes peledakan nuklirnya sebanyak 6 kali.

Korea Utara, dipercaya telah melakukan uji coba peledakan bom nuklirnya pada 09 oktober 2006

Afrika Selatan, Pada 1949 Afrika Selatan telah memiliki Institut Energi Atom Afrika, sebagai penopang pengembangan pertambangan uraniumnya. Dan untuk pengembangan tahap lanjut, Amerika pun menjual sebuah reaktor berkekuatan 5 megawatt, 1965 yang diberi nama Safari 1. Dua tahun kemudian, dibangun sebuah reaktor yang lebih kecil. Namun dunia tidak sampai mencurigai reaktor itu sebagai panrik bom karena keduanya berada dibawah pengawasan IAEA.

Tuduhan baru muncul, 06 agustus 1977, ketika Uni Soviet mengirim nota kepada Amerika, yang isinya : hasil pemantauan sebuah satelit mata-matanya mendeteksi adanya rencana Afrika Selatan untuk meledakkan bom nuklir di gurun kalahari. Pengamatan satelit mata-mata Amerika pun menguatkan tuduhan ini. Maka selama dua minggu AS, bersama Perancis, Inggris dan Jerman Barat melakukan tekanan diplomatis pada Afrika Selatan. Tujuannya : menggagalkan percobaan nuklir itu. Upaya itu berhasil dan Afrika Selatan berjanji tidak akan melakukan percobaan bom nuklir di Afrika Selatan.

Tapi itu bukanlah akhir program persenjataan nuklir Afrika Selatan. Pada tanggal 22 September 1979 , sebuah satelit mata-mata AS merekam adanya kilatan mirip yang dihasilkan ledakan bom nuklir berkekuatan 2-4 kiloton di Samudra Hindia. Hingga saat ini para pakar AS belum mampu memastikan apakah kilatan itu betul-betul berasal dari ledakan nuklir atau fenomena alam saja.

Sebuah sumber mengungkapkan bahwa dari 65000 senjata nuklir aktif pada 1985, diperkirakan hanya tersisa 20000 senjata nuklir aktif di dunia ini pada tahun 2002. Hanya saja sebagian diperkiran hanya disimpan disebuah tempat, bukan dihancurkan.

Yang membuat kita heran adalah Barat yang katanya cinta damai dan pejuang Hak Azazi Manusia, boleh mengembangkan senjata nuklir sebanyak-banyaknya sedangkan negara seperti Iran yang tujuan nuklirnya untuk pembangkit listrik ditekan habis-habisan.

Referensi :
1. KSB World 2010

2. Wartawarga 2010

The Forgotten War (Perang yang Terlupakan)

Perang Korea 1950

Situasi di semenanjung Korea saat ini nampaknya semakin memanas menyusul isyarat Korea Utara untuk kembali meluncurkan rudal antarbenua Taepodong-2. Gawatnya lagi, rudal ini diperkirakan akan mampu mencapai kawasan Hawai, Amerika Serikat. Tentu saja hal ini tidak saja memicu kecemasan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates, tapi juga Presiden Barrack Obama.


”Pemerintah dan juga militer kita sepenuhnya siap menghadang rudal tersebut,” begitu tegas Obama dalam wawancara dengan televisi CBS.

Akankah perang Korea meletus kembali? Pertanyaan ini wajar karena gentingnya situasi di Semenanjung Korea saat ini sepertinya mirip kejadian  pada 1950, sesaat menjelang Korea Utara memutuskan untuk menyerbu Korea Selatan yang dianggap pro Amerika Serikat. Inilah perang dahsyat yang kerap juga disebut Perang Yang Terlupan (The Forgotten  War).

Perang Korea Utara versus Korea Selatan yang notabene perang antar-saudara ini, sebenarnya melibatkan tiga negara adidaya yang secara diam-diam mengatur permainan dan dan konflik bersenjata itu dari balik layar.Yakni Amerika Serikat, Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina.

Informasi penting yang kiranya patut direnungkan generasi sekarang yang tidak mengalami langsung kejadian tersebut adalah fakta bahwa perang Korea itu telah menewaskan lebih dari 5 juta orang. Barang tentu sebagian besar korban jiwa berasal dari warga masyarakat sipil dari berbagai kalangan.

Memang musabab meletusnya Perang Korea bermula ketika Amerika dan Uni Soviet yang sama-sama tampil sebagai Pemenang dalam Perang Dunia II, kemudian membagi beberapa negara yang sebelumnya diduduki tentaran fasis Jepang.

Ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada Amerika dan Sekutu, maka Semenanjung Korea mau tidak mau dibagi di antara Amerika dan Soviet. Amerika mendapat Korea Selatan, sedangkan Soviet Korea Utara.

Namun ketika Amerika dan Soviet berbeda paham dan metode dalam mengelola kedua bangsa yang terbelah tersebut, Korea Utara yang didorong untuk menyatukan kembali saudara-saudaranya di Korea sebelah selatan yang telah dikuasai Amerika, maka Korea Utara memutuskan untuk menyerbu Kora Selatan yang didukung dari belakang layar oleh Amerika pada 25 Juni 1950.

Korea Korban Permainan Catur Negara-Negara Adidaya

Sejak semula masa depan Korea memang sudah diprediksi bakal runyam. Dalam konferensi Yalta di Krimea pada Februari 1945, beberapa negara sekutu berkumpul bersama untuk bahas soal perang melawan Jerman dan Jepang. Namun lebih strategis dari itu, mereka juga bahas agenda pasca perang. Yaitu menyepakati pembagian negara atau wilayah yang sebelumnya diduduki Jerman dan Jepang.

Sialnya, masa depan Korea, yang ketika itu masih diduduki tentara fasis Jepang, justru tidak jelas konsep dan skemanya. Frank Delano Roosevelt, Presiden Amerika kala itu, mengusulkan kepada orang nomor satu Soviet Josef Stalin mengenai kemungkinan membentuk perwalian (trusteeship) oleh empat negara: Amerika, Soviet, Inggris dan Cina.

Waktu itu, Stalin kabarnya setuju-setuju saja karena toh kesepakatan itu hanya bersifat prinsipil tanpa kejelasan dalam detil, skema maupun penerapannya.

Ketika pertemuan Yalta berakhir, dan sekutu menang perang terhadap Jerman dan Jepang, hubungan antara Amerika-Inggris pada satu sisi, dan Soviet dan Cina pada sisi yang lain, justru semakin menegang kalau tidak mau dikatakan semakin memburuk.

Tapi mau tidak mau ketika Jepang menyerah kepada sekutu di Asia Pasifik menyusul jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agusutus 1945, maka proses pembagian Korea itupun tak terelakkan.

Sesuai arahan dari Washington mengenai syarat-syarat penyerahan tentara Jepang, maka diputuskan agar seluruh pasukan Jepang yang berada di sebelah Utara garis lintang  ke-38 , harus menyerahkan diri kepada tentara Soviet.

Sedangkan yang berada di Selatan garis , harus menyerahkan diri kepada tentara Amerika.

Arahan kebijakan Presiden Harry Truman, yang baru saja menggantikan Roosevelt yang wafat akibat penyakit polio yang sudah lam dideritanya, ternyata disepakati oleh Stalin dari Soviet. Bahkan dari berbagai analisa kalangan ahli pertahanan dan strategis, ketika itu kalau mau Soviet bisa saja langsung mencaplok Semenanjung Korea secara keseluruhan, karena toh tentara Amerika masih berada di Okinawa, Jepang.

Dari informasi ini, nampak jelas Soviet yang sekarang menjadi Rusia kembali seperti sebelum Revolusi Oktober 1917, memiliki etika yang tinggi dan menjunjung tinggi kesepakatan yang telah dicapai dengan almarhum Roosevelt.

Inilah fase yang mengawali nasib buruk Korea sebagai bidak permainan catur antar negara-negara adidaya. Bangsa Korea yang pada hakekatnya bersaudara baik yang di selatan maupun utara, tiba-tiba di luar kendali mereka sendiri, terbelah dua hanya gara-gara pembagian negara-negara pasca pendudukan Jepang oleh dua negara sekutu pemenang perang.

Sebagai bidak permainan catur, posisi Korea jadi semakin gawat ketika kedua negara pemenang perang tersebut malah terlibat perang dingin selama tiga dekade lebih.

Seharusnya, untuk mengantisipasi situasi pasca Perang Dunia II, yang utama diagendakan adalah terbentuknya Korea yang bebas merdeka, dan tidak di bawah kendali pemerintahan asing, apalagi harus dibelah jadi dua.

Namun apa mau dikata, terbelahnya Korea memang harus terjadi. Padahal, pada Mei 1945 Stalin sebenarnya sudah setuju gagasan Roosevelt ketika di Yalta bahwa Korea akan ditangani melalui perwalian empat negara: Amerika, Soviet, Inggris dan Cina.


Fase Konsolidasi Dua Korea 

Begitulah. Di Korea Utara, Kim Il Sung yang dalam Perang Dunia Kedua berperang bersama tentara Soviet, kemudian diminta menyusun kekuatan yang didominasi oleh kaum komunis. Maka dibentuklah Majelis Rakyat Tertinggi Korea (Utara) yang kemudian bertugas membuat komisi untuk merancang konstitusi. April 1948, rancangan konstitutsi diterima.

September 1948, Kim Il Sung dikukuhkan sebagai Perdana Menteri Korea Utara melalui Sidang Majelis Rakyat Tertinggi, setelah sebelumnya menerima dan meratifikasi rancanfgan konstitusi.

Sementara itu di Korea Selatan, pemerintahan militer Amerika di bawah pimpinan Letjen John Hodge, mulai pembentukan satuan cadangan kepolisian dan merintis pembentukan tentara nasional.

Bagi Amerika sejak kemenangan sekutu dalam Perang Dunia Kedua, memandang Korea telah menjadi tempat uji coba, testing ground  antara kubu demoraksi versus komunisme. Karena itu masuk akal jika Amerika kemudian semakin protektif terhadap Korea.

Buktinya, sejak 1949, Presiden Truman mendesak Kongres Amerika untuk menyediakan bantuan jangka panjang bagi Korea Selatan, baik untuk ekonomi maupun pertahanan.

Sekadar informasi, Korea Selatan ketika memiliki 98.000 personel militer, namun dengan peralatan militer yang seadanya dan serba kekurangan perlengkapan senjata.

Sebaliknya Korea Utara, pada 1946 Soviet telah berhasil mengorganisasikan sekitar 20.000 satuan polisi dan tentara. Dan Agustus tahun itu juga, Tentara Korea Utara resmi terbentuk.

Namun dari sisi kesungguhan, Soviet nampaknya lebih serius dalam memberi bantuan militer kepada Korea Utara dibandingkan Amerika kepada Korea Selatan. Meski tentara Soviet di Utara hanya 150 personel, sementara Amerika di Selatan 500 personel, namun Soviet lebih sungguh-sungguh dalam menyediakan peralatan militer berat, termasuk pesawat terbang, dan tank.

Sehingga ketika pecah Perang Korea, pihak Utara sudah memiliki 135.00 pasukan bersenjata lengkap ditambah brigade tank. Angkatan udaranya memiliki 40 pesawat tempur YAK, 70 Ilyushin Sturmovik 11-10 dan pembom tempur Lavochkin LA-9, serta 60 pesawat latih YAK.

Pada 1950, Cina juga mengirim kembali ke Korea Utara sekitar 12.000 pasukan Korea berpengalaman, yang semula bergabung bersama Cina dalam perang melawan Jepang.

Lalu mengapa Korea Utara berani menyerang Korea Selatan? Nampaknya pidato Menteri Luar Negeri Amerika Dean Acheson pada januari 1950 dinilai cukup memprovokasi Korea Utara. Dalam pernyatannya, Acheson menegaskan bahwa perimeter pertahanan Amerika di Pasifik memanjang dari Kepulaian Aleut, lalu Jepang, hingga kepulaian Ryuku dan Filipina.

Jadi, Amerika sama sekali tidak menyebut-nyebut Korea. Nampaknya Menlu Acheson maupun para pembuat kebijakan keamanan nasional Amerika tidak peka terhadap krusialnya masalah Korea. Karena justru pidato Menlu Amerika yang menafikan Korea inilah yang memicu Korea Utara akhirnya menyerbu Korea Selatan pada 25 Juni 1950.

Maka terkejutlah para petinggi Amerika, namun situasi sudah terlambat untuk dicegah. 28 Juni 1950, invasi Utara berhasil menghabisi tentara Korea Selatan di sungai Hans. Dan Seoul ibukota Korea Selatan pun jatuh.

Dalam situasi genting itu, Amerika terpaksa menurunkan kekuatan penuhnya membantu tentara Korea Selatan  yang sudah hancur lebur tersebut.

Singkat cerita, setelah menempuh berbagai tahapan yang cukup genting, Angkatan Udara Amerika dengan keunggulan teknologinya, berhasil menetralisasi gerak laju pasukan Korea Utara yang sementara itu sudah mendapat dukungan penuh Soviet dan Cina.

Melalui siasat militer Jenderal Douglas McArthur, Penguasa militer Amerika di Asia Pasifik dan pahlawan Perang Dunia Kedua, maka secara militer Amerika berhasil memukul mundur Korea Utara dari Seoul. Meski dengan korban jiwa yang cukup besar.

Bahkan Amerika dan pasukan PBB kemudian berhasil memaksa tentara Korea Utara melintasi sungai Yalu, dan munduir ke wilayah Korea Utara.

Nah di sini ironi muncul. Pasukan sekutu yang sekaran mengambil inisiaitif penyerangan, dihadapkan pada peluang untuk melancarkan gempuran langsung ke wilayah Korea Utara. Namun resikonya, Amerika akan mendekati perbatasan Korea Utara-Cina, yaitu Manchuria. Sehingga akan memicu Cina terjun dalam kancah perang membantu Korea Utara.

Skenario ini rupanya tida diperhitungkan Amerika, sehingga pada perkembangannya justru memicu konflik antara Presiden Truman dan Jendral McArthur.

Namun Truman yang nampaknya lebih memperhitungkan aspek-aspek non-militer dibanding McArthur yang semata-mata mengikuti logika militer, memutuskan untuk menghentikan gerak laju tentara Amerika yang bermaksud menyerang balik Korea Utara, untuk mencegah perang terbuka Amerika versus Cina.

Sementara McArthur yang menilai inilah momentum untuk menaklukkan Korea secara keseluruhan melalui serangan balik ke Korea Utara, justru berpendapat tentara Amerika harus melintasi sungai Yalu dan menyerbu Korea Utara. Tak perduli apakah Cina akan membantu Korea Utara atau tidak.

Dalam sistem Amerika yang menganut supremasi sipil, apa boleh buat McArthur harus mengalah kepada Truman, dan mundur dari dunia ketentaraan.

Maka, Truman memutuskan pasukan Amerika berhenti sebelum melintasi Sunggai Yalu, dan membangun perimeter yang dikenal dengan nama 38th.

Minggu, 25 Juli 2010

A Frozen Flower

Terkecoh, Bawa Ketegangan

Saya telah melihat & menjelajahi content akun fb & blog anda. Saya tertarik dengan Film - Film Korea, khususnya tema kolosal kerajaan (politik, strategis, filosofi, perang), seperti film tiga kerajaan (Goguryeo, Silla & Baekje). Itu dimulai dengan menonton film seri Jumong, The Kingdom of The Winds, dan Dae Jouyung (film seri). Ceritanya cukup menarik & hal itu beranjak dari dokumen sejarah baik dari Samguk Sangi atau Dokumen Dinasti China. Film kategori fiksi, namun tidak meninggalkan sisi ilmiah dan banyak pengetahuan yang dapat dipelajari serta menampilkan sisi artistik (estetika yg baru & khas oriental).

Konstruksi Film 

Saya sendiri, untuk menonton film versi movie korea masih sedikit. Bahkan belum pernah nonton film-film korea di bioskop serta dalam bentuk DVD Player. Namun ada pengalaman yang cukup menarik tidak sengaja saya lakukan perihal itu. "A Frozen Flower" itulah pertama kali saya nonton film versi movie korea. Saya berkeinginan memutar DVD-nya karena saya tertarik pada cover film yang menggambarkan tentang kerjaan Chosun (akhir Dinasti Chosun). 

Dalam benak saya film tersebut tentunya akan sama karakter/setipe dengan film-film kolosal kerajaan seperti di atas. Bercerita tentang kekuasaan feodal, strategi, militer, perang dan politik. Ternyata ekspektasi sangat berbeda jauh, hampir semua cerita tentang kisah asmara/percintaan. Durasi adegan seksual begitu mendominasi dan fulgar (tentunya sangat berbeda dgn film-film seks yang pernah saya tonton). Hampir 1-1/2 jam saya terpukau dengan adegan seks antara Permaisuri dengan Kepala Pengawal Istana yang kebetulan merupakan pasangan homoseksual Pangeran kerajaan. Permaisuri melakukan hubungan seksual dengan Kepala Pengawal Istana karena Pangeran Kerajaan mengalami penyimpangan seksual. 

Tuntutan biologis Permaisuri itulah, Pangeran mempercayakan Kepala Pangawal Istana (tangan kanan pangeran) untuk memenuhi hasrat dan kewajiban seksual kepada Permaisuri. Dengan syarat, jangan ada cinta yang tumbuh antara Kepala Pengawal Istana karena ia adalah pasangan homoseksual yang dicintai. 

Pangeran menyaksikan setiap malam saat Permaisuri dan Kepala Pengawal Istana melakukan hubungan seksual. Pada malam pertama, Sang Permaisuri begitu dingin dan meneteskan air mata saat harus melalui malam pertama bukan dengan suami. Perlahan, helai demi helai busana Permaisuri dilucuti oleh Kepala Pengawal Istana sambil merebahkan badan istri Pengeran itu. Ia agak canggung, penuh keraguan dan sedikit kikuk, berat untuk pertama karena harus meniduri Permaisuri tidak lain adalah atasanya. Ketika akan melakukan itu ia sempat menolehkan wajak ke arah intu luar melihat bayangan sang Pangeran, tuan sekaligus lawan homoseksual.

Perlahan tapi pasti, ia mulai menindih istri pertama pemimpin kerajaan Dinasti Chosun. Sentuhan lembut tangan menghampiri wajah perempuan yang tampak tak berdaya dengan perasaan sedih dan dingin. Dalam hatinya Permaisuri menghendaki disetubuhi oleh suaminya. Ia pun tak membalas kecupan di bagian telingan dan bibir. Tak luput juga tangan lawan persetubuhan itu juga mengelus payudara yang masih terbungkus BH ala pakaian adat kerajaan. Malam petama itu tidak berlangsung lama, Kepala Pengawal itu menghentikan aktivitas foreplay dan mengurungkan untuk melakukan persetubuhan pada malam itu karena sikap dingin yang ditunjukan Permaisuri. Lantas ia meninggalkan Permaaisuri yang terlunglai dingin dengan bersimbah air mata di rangjang. Ia menuju keluar kamar dan menghampiri Pangeran yang berada di belakang pintu luar. 

Pangeran memberikan penjelasan bahwa ia harus tetap dan memaksakan diri untuk dapat melakukan hubungan seksual dengan istrinya. Kegagalan malam itu dijelaskan oleh tangan kanan itu "Sungguh hal yang tidak mudah harus menyetubuhi tuanku sendiri, istri Pengeran dan pasangan homoseksualku". Memang sebelum malam itu mereka berdua telah melakukan hubungan percintaan yang tidak lazim. Setiap malam mereka selalu tidur seranjang.

Lalu tibalah malam itu, Kepala Pengawal harus melaksanakan perintah Pengeran. Permaisuri juga tidak bisa menolak perintah itu. Mau tidak mau ia harus berhubungan intim untuk mendapatkan keturunan. 

Malam kedua jauh berbeda dengan sebelumnya, Permaisuri mulai lunak dan meciptakan suasana lebih relax, ia sendiri melucuti pakaian (alias bugil). Ia juga melucuti sendiri pakaian Kepala Pengawal, dan awalnya mereka berdua masih menujukan sikap dingin dan penuh keraguan. Beberapa saat setelah saling pandang tubuh keindahan masing-masing keindahan tubuh bugil mereka suasana perlahan mencair. Ketelanjangan itu menimbulkan rangsangan dan gairah diantara meraka. Terutama Sang Pengawal, sebenarnya ia merupakan laki-laki normal dan berwajah rupawan serta mempunyai kemampuan dan kecakapan pedang luar biasa. 

Kembali pada adegan seksual yang akan saya gambarkan. Sungguh tidak dapat dipercaya, seorang pembantu atau bawahan menerima kepasrahan dan bentuk tubuh bugil yang indah Permaisuri. Ia begitu terlihat terangsang. Istri Pangeran tampak tersentak kaget dengan gerakan atau ulah bawahanya itu. seperti binatang buas yang kelaparan. Ia langsung menyergap dan melalap keindahan tubuh bugil itu. Mulai dari menjilati wajah, leher, perut, paha hingga bagian vital Permaisuri dengan ganas. Tidak itu saja, ia mecium bibir dan mengkulumnya sambil tangan sang pengawal meremas-remas payudara yang tampak mulus dan mengencang. Ulah buas dan liar itu mulai membuat perubahan nafas Permaisuri yang mulai tidak beraturan. Desahan dan rintihan mulai terdengar nyaring ke telinga Pangeran yang tetap menunggu di balik pintu luar kamar. Pangeran tampak gelisah, jelas wajahnya menujukan sebuah conflict of interest. Satu sisi ia harus merelakan tubuh sang istri dikoyak dan dinikmati oleh pasangan homoseksualnya (orang yg dicintai). 

Perlahan Permaisuri mulai mengikuti irama permainan, ia membalas gerakan eksplosif yang begitu liar dan serakah dari lawannya dengan desahan nafas yang tidak beraturan dan semakin mengeras. Bahkan malam itu untuk pertama kali alat vital mereka berdua saling bertemu dan melakukan eksplorasi serta eksplotasi untuk mencapai pucuk kenikmatan seksual. Dan kala hantaman pertama sang Permaisuri setengah menjerit. Entah itu sakit atau nikmat, hanya dia yang dapat menjelaskan langsung. Menurut saya adalah jeritan nikmat yang luar biasa yang sulit terbendung. Kenikmatan yang seharusnya tidak terjadi (haram), menjadi halal ketika itu merupakan perintah. 

Dalam kerangka sistem feodal ucapan dan perintah raja merupakan titah, setara dengan hukum langit. Bagi mereka yang membantah dan tidak melaksanakan perintah dianggap sebagai pembelot hingga pemberontak. Hukuman yang setimpal adalah mati dengan penggal kepala dihadapan Pengadilan Istana, yang notabene diduduki oleh pejabat sipil. Tapi keputusan mutlak di tangan raja.

Setelah mecapai masa orgasme, desahan dan rintihan mulai menyepi. Mereka tampak terkapar kelelahan, dimana tubuh Kepala Pengawal masih pada posisi menindih Permaisuri. Dan terlihat pula mereka belum memisahkan cengkraman masing-masing alat vital mereka.

Beberapa saat kemudian stamina mereka mulai pulih, keduanya tampak merapikan badan dengan busana masing-masing. Sang Permaisuri masih kelihatan lemas dan menunjukan wajah yang berbinar-binar. Mungkin dalam pandangan saya bahwa se-lelah apapun dan menguras banyak stamina, hubungan seksual dapat melancarkan sistem peredaran darah dan metabolisme. Hal itulah yang membuat seseorang semakin sehat dan bugar lahir-batin jika dilakukan secara teratur dengan batas-batas kewajaran. Bahkan ada mitos, hubungan seksual mampu memperpanjang life expectancy, khusus pria (dikutip dari beberapa artikel).

Pengawal meninggalkan kamar Permaisuri untuk menghampiri Pangeran yang telah menunggu selama mereka berhubungan intim. Di dalam ruangan kamar Permaisuri terdiri dari dua bagian, yaitu kamar tidur yang tersekat dengan selasar mirip ruang tamu di kamar hotel, khusus untuk bercakap-cakap dua tau tiga orang saja. Sesaat sebelum meninggalkan, ia tampak memandang penuh rasa Permaisuri. 

Hubungan seksual malam itu tampaknya membuat perubahan drastis. Hampir tiap malam ia membayangkan kejadian malam itu. Ia tampak masih merasakan dan menikmati memory kelembutan tiap sentuhan seksualitas malam itu. Hubungan seksual dengan Pangeran pun tidak berubah & mereka tetap melakukan secara rutin setiap Pangeran menghendaki. 

Perubahan itu dirasakan oleh Pangeran karena setiap malam mereka tidur bersama. Hubungan seksual itu telah membuat sikap tangan kanan-nya. Ia sedikit dingin dan tidak fokus ketika mereka sedang bercumbu layak pasangan normal. Tidak seperti sebelum kejadian malam itu, ia akan selalu antusias dan bersemangat melayani nafsu pangeran dengan gaya permainan yang berimbang. Kali ini ia menampakan suasana hati resah dan galau setiap tidur. 

Pada suatu pembicaraan, Pangeran mengingatkan kepada orang kepercayaannya itu tentang komitmen dalam melaksanakan perintah. "Jangan sekali-kali kau jatuh cinta padanya karena dia adalah istriku. Jika itu terjadi aku tidak akan memaafkan". 

Beberapa hari kemudian dalam suatu kesempatan, Kepala Pengawal itu meniatkan diri untuk berbicara hal yang serius kepada Pengeran. Ia saat ini tidak dapat membendung lagi gelora dan hasrat yang berbeda terhadap Permaisuri setalah berhasil melaksanakan perintah pada tahap pertama. Ia memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Pangeran tentang perasaan itu. Akhirnya ia utarakan.

Pangeran tampak begitu kecewa dan bersedih. Atas perubahan itu. ia memutuskan untuk memohon agar pangeran menghentikan perintahnya. Ia tidak sanggup menolak perubahan dan menghianati kepercayaan selama ini. Pangeran tetap tidak bergeming, ia tetap memerintahkan untuk tetap melanjutkan. Ia tak berdaya untuk menolak dan harus tetap melaksanakan perintah itu. 

Perintah itu sendiri hanya diketahui oleh Pengeran, Permaisuri dan Kepala Pengawal itu sendiri. Ini merupakan operasi rahasia, hal itu tidak terjelaskan pada film itu karena subtittle tidak berjalan lancar dan benar. Saya kehilangan bagian terpenting sebagai penjelasan atas operasi itu. Seiring waktu operasi itu terendus oleh salah satu Kasim Permaisuri. Karena pada saat bersetubuhan yang kedua itu tidak sengaja Kasim itu mendengar dan menyaksikan dari balik pintu luar kamar Permaisuri hubungan seksual yang semakin panas. Kasim itu sendiri adalah pelayan khusus Pangeran dan Permaisuri. Syarat untuk menjadi seorang kasim istana, sejak kecil sudah didik tata krama. Dan syarat paling ekstrim, alat vital calon kasim sudah dikebiri sejak kecil. Karena setelah menjadi kasim, seseorang tidak boleh menikah. "Oh Tuhan, sama saja sudah mati jika tidak punya alat vital".

Pertadingan kedua itu, Permaisuri begitu terlihat tidak sabar dan trengginas (lebih liar dan mengambil inisiatif dalam permulaan permainan hubungan seksual). Ia mengambil kendali permainan dan menciptakan gerakan-gerakan atau pola-pola baru dari pertandingan pertama. Mereka berdua tampak begitu menikmati dan saling terpuaskan. Seolah seperti pasangan muda yang dimabuk asmara dan haus akan kenikmatan seksual. Bahkan ia mengambil inisiatif memainkan pola menindih, Pengawal berada di bawah sementara Permaisuri duduk dengan posisi memainkan alat vital laki-laki pada alat vital-nya, mirip gerakan senam lantai scott jump. Sedikit ekstrim menerapkan pola 69, masing-masing melakukan serangan oral seks.

Tahap demi tahap hubungan seks itu berjalan rutin. Hubungan seksual itu tidak hanya dilakukan di kamar Istana pada jadual yang telah ditentukan secara berkala oleh Pangeran. Frekuensi semakin meningkat di luara jadula yang telah ditentukan. Gairah Permaisuri sulit untuk dibendung lagi. Pernah ia meninggalkan acara menuju ruang perpustakaan istana. Ia menyuruh kasim untuk mengatarkan pesan kepada Kepala Pengawal untuk lekas menuju perpustakaan.Di sana-lah mereka melampiaskan hasrat di luar jadual. 

Tindakan itu membuat improvisasi luar biasa berani, mereka merapakan pola serangan baru. Yaitu serangan balik saluran belakang. Tidak hanya itu saja, setiap bulan purnama Permaisuri membuat jadual sendiri untuk melakukan hubungan seksualnya di perpustakaan.

Penyimpangan yang terjadi membuat Pangeran tidak tinggal diam. Ia dihantui rasa cemas bahwa mereka benar-benar telah saling jatuh cinta. Akhirnya ia membuat kebijakan untuk sering menugaskan Kepala Pengawal keluar kota, memimpin penyelidikan rencana pembrontakan yang dilakukan para pejabat sipil.

Ia masih curiga terhadap orang kepercayaanya. Saat mereka tidur sekamar, Pangeran telah mengawasinya tanpa ia ketahui. Tanda-tanda itu tampak, Pengawal begitu gelisah malam itu. Pangeran pura-pura tertidur lelap. Kondisi itu disadari oleh Pengawal untuk pergi secara diam-diam karena telah ditunggu oleh Permaisuri di perpustakaan. 

Sebenarnya Pengeran tidak tahu tempat yang dituju mereka berdua untuk melakukan hubungan seksual. Malam itu hujan begitu lebat, tanpa keraguan Pangeran ditemani kasim dan pengawal lain mengeledah beberapa ruangan istana yang dicurigai tempat persembunyian mereka melampiaskan hasrat seksual. Pada akhirnya hanya tersisa ruang perpusatakaan yang belum digeledah. Pada saat yang sama gairah liar senggama mereka membuat langkah penggrebekan tidak terdengar. Mereka asyik menikmati sentuhan demi sentuhan seksual ditambah udara dingin hujan lebat membuat meraka semakin bersemangat. Suara kenikmatan itu terdengar begitu keras tanpa menghiraukan keadaan sekeliling. Pangeran dan pengawal-nya terbelalak setelah menyusuri row terujung dari ruangan perpustakaan itu. 

Mereka semua menyaksikan adegan yang tidak pantas dilakukan antara Permaisuri dan Pengawal Istana. Pasangan malam itu kaget dan musnah gairah seketika. Tampak jelas pada raut muka Permaisuri meski alat vital Pengawal masih menancap tegas, begitu juga dengan anggota tubuh yang lain saling menindih.

Murka wajah Pangeran diluapkan dengan pukulan ke arah wajah Pengawal itu. Tak luput tamparan menghujam deras ke pipi kemerah-merahan Permaisuri. Kemudian mereka berdua diikat layaknya tahanan. Berapa dialog dan penjelasan antara Pengeran dan Kepala Pengawal. Entah mengapa, tiba-tiba Pangeran memerintahkan untuk memotong alat vital Kepala Pengawal pada pengawal yang mengirinya. Kisah selanjutnya bisa Anda teruskan sendiri dengan memutar sendiri DVD film A Frozen Flower. 

Itulah film movie korea pertama yang saya tonton dengan adegan seksual cukup fulgar. Serta yang pertama menonton film seperti itu dengan teman. Biasanya saya menonton film dewasa secara pribadi di kamar. Awal begitu canggung, tapi perlahan terasa biasa saja. Begitu juga teman saya. Sejak saat itu saya merasa belajar menjadi dewasa.(yuyuk)

Maaf dalam penyampaian sinopsis ini terlihat fulgar. Ini berdasarkan rekonstruksi setelah saya menonton film tersebut. Itu merupakan gambaran hal yang baru dan begitu terkejut dan diluar ekspektasi awal rencana menyaksikan film tersebut.

Minggu, 11 April 2010

Blog di Bawah LenteraMuda

1. http://topi-hitam.blogspot.com/ Hacking and Programming
2. http://hackermpia.wordpress.com/ --> membahas tentang olahraga catur

Semuanya di bawah tanggung jawab blog LenteraMuda and Staf , secara tidak langsung

LenteraMuda Zone : "Berpikir Lebih Unik"

Rabu, 07 April 2010

Upgrade Blog LenteraMuda

Berkenaan dengan Blog lenteramuda yang sudah lama tidak di update,  serta di upgrade, maka saya selaku Asisten Pimpinan LenteraMuda, Nur Elly Saputra , dengan ini mengabarkan bahwa Blog sudah di perbarui. Untuk sementara waktu yang menulis di blog ini adalah : 

1. Yuyuk Rachmad Wahyudi.
2.   Nur Elly Saputra

Blog ini terlantar di karenakan kesibukan , dan ada masalah internal di Komunitas kami LenteraMuda , sudah sekitar 3 tahun blog ini terlantar , atas perhatiannya kami mohon maaf . Kepada para Reader Blog LenteraMuda kami ucapkan banyak terima kasih.


Tertanda Asisten LenteraMuda

Nur Elly Saputra

Kamis, 11 Desember 2008

Redaksi Pelaksana Lenteramuda Semeja Makan dengan Laksamana Sukardi

Laksamana Sukardi, PDP Tidak Akan Koalisi















Lenteramuda Gandeng BEM KM UGM Hadirkan Laksamana Sukardi
Ir. H. Laksamana Sukardi, Koordinator PKN PDP jadi Pemateri Diskusi Publik "Nasionalisasi Aset-Aset Strategis Bangsa"


Lenteramuda menjalin kerjasama dengan BEM KM UGM mengadakan diskusi publik yang cukup prestisius pada Selasa, 9 Desember 2008. Acara diskusi publik itu mulai jam 08.00 sampai 12.00 WIB, bertempat di Auditorium Fakultas Pertanian UGM.

Laksamana Sukardi yang juga masuk bursa Capres RI 2009 dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) memaparkan konsep pengeloaan Aset-Aset Strategis Bangsa. Ia dipanelkan dengan pembicara lain, yaitu Marwan Batubara, anggota DPD RI.
Acara itu juga dipanaskan dengan panelis dari calon Presiden BEM KM UGM, dimana itu merupakan rangkaian dari masa kampanye Pemilu Raya Mahasiswa UGM.
Lenteramuda dan BEM KM UGM akan mengundang tokoh-tokoh politik Jogja, perwakilan mahasiswa Perguruan Tinggi Se-Jogja serta Ketua KPUD Prov. D.I. Yogyakarta dalam acara tersebut.

" Ruangan diskusi mengalami overload, karena antusiasme publik Jogja menyambut kedatangan Ir. H Laksamana Sukardi yang baru saja bebas dari penyelidikan kasus VLCC oleh Kejaksaan Agung (keluar SP3). Ini diluar predisi kami", jelas Drs. Mustiko Laut Pimpinan Redaksi Lenteramuda.
"Dan kiranya dalam forum ini Pak Laks bisa lebih mantap untuk maju dalam bursa Capres RI jika PDP menang Pemilu 2009", tambah Mustiko Laut yang juga Pimpinan Kolektif Provinsi PDP Yogyakarta.

PDP Tak Akan Berkoalisi
Kepercayaan diri Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) cukup tinggi. Itulah yang ditunjukkan oleh Koordinator Pimpinan Kolekstif Nasional Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Laksamana Sukardi.
Laksamana mengatakan dalam pemilu 2009 nanti, PDP tidak akan berkoalisi dengan partai lain. Sebab, jika PDP berkoalisi dengan partai lain itu artinya PDP sama saja dengan partai lain. Tidak memberikan pencerahan bagi kepemimpinan Indonesia.
" Kalau PDP mengekor dengan partai lain, PDP lebih celaka lagi. PDP akan sulit meraih dukungan masyarakat ", kata Laksamana Sukardi kepada wartawan usai menghadiri acara seminar Nasionalisasi Aset-Aset Strategis Bangsa di Auditorium Fakultas Pertanian UGM.
Laksamana menibaratkan pemilu sama halnya dengan sebuah pertandingan sepakbola. Baginya, pemilihan legislatif merupakan babak kualifikasi sebelum masuk ke babak semifinal, dimana partai yang lolos electhoralthreshole dan parlementarythreeshole akan dapat mengajukan Capres. Untuk itu, pihanya akan berusaha keras agar PDP mendapat suara signifikan di kursi legislatif. (yuyuk/jerry)

Kamis, 30 Oktober 2008

Makan Korban


Awal mula kita mengemas media ini sungguh mengalami kesulitan. Terutama menentukan rubrik-rubrik yang akan mengisi majalah ini.
Bahan liputan dari tema yang ditentukan sudah terpenuhi semua. Namun yang jadi persoalan, pada rubrik mana kita akan tempatkan tulisan-tulisan ini.
Sementara dalam rapat redaksi belum diputuskan penetapan nama rubrik berdasarkan jenis tulisan, isi dan narasumber. Rapat redaksi lebih didominasi bahasan tentang kapan akan terbit, jumlah halaman yang pas, serta anggaran yang disediakan per terbitan.
Beberapa redaksi mengalami tekanan yang luar biasa. Banyak tulisan dan bahan untuk mengisi majalah tapi bingung untuk menempatkannya.
Sebagian redaksi mengalami demam panggung gara-gara hal itu . Mereka kurang “pede” melihat hasil tulisannya. Apakah ini sudah layak dimuat atau tidak, menjadi headline, pelengkap dan sebagainya.
Di lain sisi kegiatan editing untuk sementara dihentikan. Karena setelah melakukan pengamatan dari tulisan yang telah dimuat di blog, ternyata hasilnya dianggap kurang memuaskan.
Teman-teman yang berada di Litbang juga tidak kalah pusingnya. Merekalah yang bertanggungjawab memberikan rekomendasi yang cocok dan inovatif tentang pengemasan media ini. Mereka melakukan usaha studi banding dengan mengumpulkan, mencari dan menganalisa media-media cetak baik harian, mingguan, dan bulanan yang setipe. Baik dari segi konten (muatan), gaya bahasa sampai pada layout-annya. Tapi tak mendapatkan hasil yang menggembirakan.
Hasil survei dan verifikasi juga tak membuahkan hasil. Redaksi tetap saja dihantui perasaan bingung luar biasa.
Hingga detik-detik menjelang deadline, redaksi pelaksana yang harus putar otak molak-malik. Karena tanggungjawab atas terpenuhinya redaksi menjadi hak miliknya. Baik penentuan tema, pembagian jumlah newsroom dan iklan. Dan jika perlu mengontrol tugas masing-masing redaksi.
Latar belakang, pengalaman dan lingkungan ternyata menjadi faktor penentu seseorang mengambil keputusan. Tapi juga tidak terlepas daripada situasi dan kondisi, serta kebutuhan.
Latar belakang dan pengalaman menjadi jurnalis kampus membawa pada keputusan untuk menyajikan media ini sesuai dengan perspektif masing-masing redaksi dan pembaca. Proses redaksi dibangun dengan asas kemitraan dan partisipatif antara redaksi dan pembaca.
Menurut redaksi pelaksana, nama rubrik sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang tidak lazim (tidak formal), kalau bisa memakai bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Secara psikologi massa orang akan merasa dekat karena ada kedekatan hubungan emosi.
“Sama pengalaman saya menetapkan nama rubrik dengan memakai kosakata nyleneh tapi cukup menggambarkan bahwa bacaan ini punya karakter dan mewakili mereka yang membacanya”.
Akhirnya untuk pertama kalinya Lenteramuda memakan korban masa lalu dari kehidupan redaksi pelaksana.
Dan insya Allah muatan tema dan penetapan rubrik ini mewakili karakter pembaca sekalian. Moga-moga edisi bulan Oktober redaksi mendapat santapan yang inovatif sekaligus menggelitik.
“Who gets what, when, how” tunggu kami.

Masjid Syuhada

Masjid Syuhada sebagai salah satu ikon dari Jogjakarta tidak banyak dikenal masyarakat di luar kota Jogkakarta. Mereka mengenal Jogja dengan Malioboro.
Masjid Syuhada merupakan salah satu bagian penting atas keberadaan kota Jogja. Masjid Syuhada merupakan salah satu peninggalan sejarah sekaliigus monumen sejarah.
Masjid Syuhada didirikan dengan latar belakang politis, yaitu keinginan Pemerintah Republik Indonesia untuk meninggalkan kenang-kenangan sekaligus monument bagi warga Jogjakarta. Monumen bagi mereka yang telah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ide pembangunannya diprakarsai oleh MR. Assaat (Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) dan sejumlah menteri era Presiden Soekarno. Seperti Mr. Syafrudin Prawiranegara, K.H Wahid Hasyim, K.H Masykur, Z.A Ahmad dll.
Seperti diketahui, karena kegentingan politis dan keamanan, ibu kota Republik Indonesia di Jakarta untuk sementara dipindahkan ke Jogjakarta mulai tanggal 6 januari 1946. Pemerintahan dijalankan di Gedung Agung Jogjakarta, dekat pasar Beringharjo atau di sebelah utara keraton Jogjakarta.
Selain itu, alasan historis-politis, pendirian masjid Syuhada dilatarbelakangi pula oleh keinginan untuk melestarikan jiwa perjuangan. Tidak dalam bentuk tugu peringatan atau monumen melainkan masjid. Alasan lain yaitu keinginan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat akan tempat ibadah.
Ada tiga persyaratan yang dikemukan oleh para pemrakarsa pendiriannya, yaitu sesuai dengan sifat perjuangan bangsa Indonesia, sesuai dengan kebudayaan Indonesia, dan bisa menjadi peringatan yang senantiasa hidup dan terhidupkan sepanjang masa.
Simbolisasi Proklamasi
Pemilihan tanda peringantan berupa masjid dianggap tepat oleh banyak kalangan baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Karena tidak ada tanda peringantan yang melebihi kebernilaian sebuah masjid. Dan tidak ada tempat lain yang lebih tepat daripada sebuah masjid untuk mengabadikan jiwa kejuangan para syuhada itu.
Masjid Syuhada mulai dilakukan pembangunannya di Kota Baru pada tanggal 23 September 1950 dan diresmikan penggunaanya pada tanggal 20 September 1952 oleh Presiden Soekarno. Pemilihan lokasi di Kota Baru untuk memberikan perhargaan atas peristiwa Pertempuran Kota Baru. Selain itu lokasinya juga terletak di lembah Kali (sungai) Code, sungai yang membelah bagian tengah kota Jogjakarta.
“Itu tempat berjuangan melawan Jepang, ada 18 orang) yang gugur di sekitar Kota Baru, ujar RM. Tirun Marwito, Ketua Pengurus Masjid Syuhada. .
Itu terjadi pada 7 Oktober 1945. Waktu itu pemuda-pemuda kita ingin melucuti tentara Jepang. Hal itu dilakukan para pemuda kita untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dikumandangkan proklamasinya 17 Agustus 1945.
Bangunan Masjid Syuhada terdiri dari tiga lantai. Jika di lihat dari depan atau arah timur (dari Jalan I Nyoman Dewa Oka), lantai pertama sejajar dengan jalan. Di atas terdapat satu lantai namun seolah hanya dua lantai karena lantai dasar tidak nampak.
Jika dilihat dari belakang (dari arah jalan Amat Jazuli, tepi Kali Code), atau dari arah sudut barat dan sudut selatan, bangunan tampak tiga lantai. Dimana lantai pertamanya sejajar dengan jalan Amat Jazuli.
Atap masjid terdiri dua tingkat. Di bagian atas, sebagai puncak masjid, terdapat kupel (mustoko) besar sebagai kubah utama masjid. Di bagian bawahnya terdapat empat kupel kecil di sudut-sudut atap masjid.
Masjid Syuhada mempunyai arsitektur design yang melambangkan momen proklamasi kemerdekaan. Itu diletakan pada struktur bagunan anak tangga dan gapura masjid. Angka 17 disimbolkan dengan anak tangga yang berjumlah 17. Sementara bulan Agustus disimbolkan dengan pilar (tiang) gapura yang mengapit tangga sebelah depan, yang sengaja dibuat segi delapan. Tahun proklamsi disimbolkan dengan empat buah kupel (mustoko) kecil di empat sudut atap bagian bawah, lima kupel di atap bagian atas.
Kok di Kota Baru
Penempatan Masjid Syuhada di Kota Baru bukan tanpa alasan yang filosofis dan strategis. Itu tempat berjuangan melawan Jepang, ada 18 orang yang gugur di sekitar Kota Baru, terjadi pada 7 Oktober 1945. Waktu itu pemuda-pemuda kita ingin melucuti tentara Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dikumandangkan proklamasinya 17 Agustus 1945.
“Mereka meninggal di sekitar Kota Baru ini. Maka ini antara lain salah satu mengapa kok di sini, kebetulan juga tanah ini mudah dibebaskan oleh karena ini tanah keraton. Pada waktu itu Pak sultan merelakan tanah ini digunakan untuk mendirikan Masjid. Dan letaknya bagus sekali, pemandangan yang berada di sekitar ini lebih indah dari sekarang, bisa melihat gunung merapi” papar Pak Tirun.
“Untuk mendirikan tempat ibadah itu harus diletakkan pada tempat yang lebih tinggi”, tambah Pak Tirun.
Sepak Bola dan Kerukunan Beragama
Pendirian Masjid Syuhada pada mulanya berawal dari keinginan seorang penggemar sepak bola yang 'fanatik' Islam, yang sering bermain sepak bola di Kridosono, Haji Mu'amal. Keinginannya tersebut disampaikan dalam logat Jogja, kurang lebih seperti ini.
“Lha kalau di Kridosono ini diadakan bal-balan (sepakbola), lalu orang pada main bal-balan dan pada nonton bal-balan akan sembahyang Ashar dimana dan pada sembahyang maghrib dimana?”.
Kemudian teman bicaranya , Haji Suja' menimpali, “Lha, ya iya dimana? Wong nggak ada masjid, je.” Keinginan itu lalu disampaikan pada pemerintah Jepang yang pada waktu berkuasa.
Untuk mengambil hati orang Indonesia, pemerintah Jepang memberikan ijin sebuah gereja Protestan yang kosong dan tidak dipakai lagi dipakai untuk sholat. Gereja itu bernama Geraja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Namun pada waktu Belanda menguasai lagi Yogyakarta, orang-orang tidak mau lagi menunaikan sholat di gereja tersebut.
Lalu timbul persoalan lagi. “Mau pada sembahyang Ashar dimana, mau sembahyang Maghrib dimana ?” celotehan H. Muammal, Ketua Panitia Pertama pendirian masjid.
Kemudian pada saat pemerintahan Indonesia hijrah ke Jogjakarta, persolan itu disampaikan kepada beberapa staf pemerintahan diantaranya Mr. Assaat.
Diberikan Yasma
Selanjutnya pengeloalan Masjid Syuhada di diserahkan dari panitia pendirian (Mr. Assat) kepada YASMA ( Yayasan Asrama dan Masjid), yang kemudian dikenal dengan Yasma Syuhada. Amanat pembentukan Yasma adalah untuk membimbing pertumbuhan rohani dan jasmani pemuda Indonesia menuju pembangunan angkatan baru yang berjiwa Islam.
Untuk anak-anak Yasma melakukan kegiatan pendidikan dengan label Pendidikan Anak-anak Masjis Syuhada (PAMS), taman Kanak-kanak Masjid Syuhada dan Sekolah Dasar Masjid Syuhada. Bagi pemuda-pemudi Yasma menyelenggarakan Pendidikan Kader Masjid Syuhada (PKMS).
Khusus dalam seni baca Qur'an, Yasma menyelenggarakan berbagai macam pendidkan melalui Lembaga Pendidikan al Qur'an Masjid Syuhada (LPQMS). Selain itu Yasma juga mendirikan perguruan tinggi dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS).
Syuhada Menghadapi Perubahan Jogja
Menyikapi perubahan yang ada pada kondisi masyarakat Jogja, menurut M. Hanif Sekertaris Pengurus Masjid Syuhada, Yasma mengambil peran pada kelompok masyarakat miskin secara ekonomi dan pendidikan. Dengan memberikan dan mencarikan beasiswa bagi keluarga tidak mampu.
“Sekolah-sekolah di bawah Yasma menampung 5% dari siswanya untuk kelompok msyarakat ini, jelas Hanif, yang juga dosen Fakultas Arsitektur YKPN.
Selain itu juga mendirikan LAZIS dan membangun unit-unit usaha melalui kegiatan kegitan ibu-ibu di desa-desa binaan.
Sebagai masjid kader, Masjid Syuhada terus memperbaiki mutu pendidikan dan kemampuan dakwah kader-kadernya. Meraka disebar ke masjid-masjid Jogja. Mereka menyebar untuk mengembangkan dakwah Islamiah pada masjid-masjid lain di lingkungan Jogja.
Masjid Syuhada sebagai masjid dakwah dan pendidikan tidak bisa lagi mengandalkan tingkat kemakmuran masjid dari masyarakat setempat. Tentu saja pengembangan kearah wisata religius perlu dipikirkan mengingat keberadaan Masjid Syuhada sebagai peninggalan dan mnumen sejarah. (yrw & henhentauruz)

Tumpengan Lenteramuda


Terbit perdana dalam edisi cetak Majalah Lenteramuda, Perspektif Jogja disambut suka cita para redaksi. Setelah empat bulan hanya terbit lewat dunia maya.
Tentusaja ini menjadi sebuah catatan tersendiri bagi Penerbitan Pers Independen Lenteramuda yang menaungi Majalah Lenteramuda. Dengan usia rata-rata dibawah 25 tahun, Redaksi Lenteramuda punya keberanian dan semangat kerja keras tinggi. Apalagi dihadapkan pada persaingan belantara dunia bisnis jurnalistik yang anarkhi.
“Wis pokokke lillahi taala, maju patang mudur. Ini bukan nekat tapi ini adalah pembuktian bahwa yang muda saatnya berkarya dan berkarya” ungkap Nur Elly Saputra, redaksi IT, yang tergila-gila sama Linux.
Inilah wujud dari komitmen generasi muda ikut andil dalam membangun dan menentukan peradabannya. Jangan sampai arus yang kencang ini membawa semua kearah yang tidak menentu.
Kenekatan dan wajah penuh optimis diperlihatkan Andaruno Jati Laksono, Marketing Lenteramuda. “Awake dewe ki kudhu tampil beda dan percaya diri. Sing penting tetap komitmen bangun idealisme tapi juga fleksibel dan independen kudu mengiringi” menguatkan semangat Redaksi Lenteramuda.
Bancaan Jajan Pasar
Sebagai insan beragama dan berakidah, Redaksi Lenteramuda juga memajatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Tanpa hidayah dan karunia Nya tidak mungkin komitmen dan kerjasama untuk menghidupkan sampai sekarang, bahkan dapat terbit cetak.
Karena kebanyakan Lenteramuda dihuni orang Jawa, mereka menggelar berdoa bersama dengan format bancaan jajan pasar. Doa bersama dengan sugguhan berupa aneka warna jajanan tradisional yang dibeli dari pasar.
Sempat eyel-eyelan antarredaksi, memilih tumpengan atau bancaan jajan pasar. Pertimbangan kesederhanaan, kehidmatan dan pengiritan maka dipilih bancaan jajan pasar. Sekaligus nguri-nguri kabudayan Jawi, yang termasuk komitmen konten dari Majalah Lenteramuda.
“Tumpengan dah umum, tidak hanya orang Jawa tapi dah nasional. Sing bedo wae lah. Yo sekali-kali mlebu pasar, ojo nang mall wae”, perkuat Suhendri, Hendriawan dan Deko, Redaksi Lenteramuda yang lain. (jry, henhentauruz & dd)

Jumat, 05 September 2008

Lenteramuda Dampingi Disertasi Mahasiswa Jepang


Yuyuk (kiri), Redaksi Lenteramuda dan Yuki (kiri urutan ke 3) foto bareng bersama Pengurus Masjid Syuhada

Bulan Ramdhan pernuh berkah, insyaallah benar adanya. Hal itu paling tidak dirasakan oleh Redaksi Lenteramuda. Tanpa dinyana, waktu berkunjung ke Masjid Syuhada, eh ada tawaran untuk mendampingi desertasi.
Pertama kita kaget, masyaallah ko bisa kita ditunjuk? Padahal SDM kami tidak cukup mumpuni dalam hal itu. Eh ternyata, kita diminta untuk memambantu salah satu mahasiswa asal Jepang yang akan melakukan riset di Indonesia.
Kebetulan kemaren, Jumat (05/09)pas Redaksi Lenteramuda mewawancarai Pengurus Masjid Syuhada, Yuki (26 th), mahasiswa Negeri Matahari Terbit tersebut berkunjung.
Setelah Pengurus Masjid, Mulyono (28 th) memberitahukan bahwa ada kunjungan mahasiswa Jepang, gayung bersambut kami pun tidak membuang kesempatan untuk ngobrol dan bereksplorasi dengan Yuki. Penguruspun memberikan kesempatan yang cukup leluasa untuk Redaksi Lenteramuda bertemu dengan Yuki di Masjid Syuhada sekitar jam 02.30 siang.
"Mas silakan saja ketemu sama dia dan bicara langsung tentang kunjunganya ke Masjid Syuhada", Mulyono, Pengurus Sekertariat Masjid Syuhada mempersilakan.
Wawancara kami dengan Mulyono seputar perjalanan masjid yang didedikasikan pendiriaannya sebagai monumen sejarah para Syuhada Jogja di Kotabaru selesai, kami segera bergegas menghampiri Yuki, tampak masih muda dan imut banget.
Perasaan kagok dan grogi muncul seiring dengan image orang Jepang. Kebetulan Redaksi kami tidak bisa berbahasa Jepang. Nekat saja dengan asumsi, para Pengurus saja lancar berkomunikasi, yang kedengaran dari jauh, berarti gadis Negeri Sakura itu pasti mengunakan bahasa Indonesia.
"Silakan Mas wawancarai Yuki" kata Pengurus Masjid yang lain.
"Ini wartawan Lenteramuda, ingin wawancara sama Yuki" tambah Pengurus mengijinkan kami kepada Yuki.
Kami asyik berbincang dengan Yuki, walau masih muda ia telah menempuh dan akan segera mendapat gelar Doktor. Luar biasa!
Kekaguman kami tidak berhenti di situ dengan usia mudanya, melainkan perihal penelitiannya. Ia mengambil penelitian yang cukup unik untuk ukuran mahasiswa luar negeri. Ternyata sebagai syarat mendapat gelar tersebut ia meneliti tentang metode pembelajaran Iqro'. Ia memilih Indonesia khususnya Jogja (Masjid Syuhada)sebagai sample penelitiannya karena masjid sebagai sarana pendidikan yang berbasis kerakyatan. Masyarakat secara swdaya membangun pendidikan bagi masyarakat itu sendiri tanpa harus tergantung pada pemerintah.
Di sela-sela wawancara dengan Yuki, kami juga menanyakan persepsi Yuki terhadap Islam di Jogja. "Islam asyik, kaya teman saya ini", ia menjawab sambil terseyum tersipu malu.
Dari situ berkah di bulan Ramadhan itu dapat dirasakan. Redaksi Lenteramuda dalam dua minggu akan menemani Yuki melakukan riset di Jogja. Kita tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Wah ini rejeki, selain mendapat ilmu juga bisa kenalan dan berteman dengan orang Jepang.
Sukses Lenteramuda, Pengurus Masjid Syuhada dan Yuki.

Rabu, 27 Agustus 2008

Berkat Tertawa

“Tertawalah sebelum tertawa itu bayar. Dan jangan menertawakan orang jika tidak ingin ada bekas hitam-kebiru-biruan di wajah mu. Terwa juga bikin saraf menjadi relex. Ada yang bilang berkat tertawa orang jauh lebih muda dari pada umurnya. Dari tertawa kita bisa belajar banyak hal”

Opsesi Tertunda

Untuk menulis memang butuh ketelatenan dan mental baja, pantang menyerah ditertawakan. Apalagi saya, mahasiswa yang mendalami ilmu ngomong dan bikin proposal apa aja, mau penelitiaan atau kegiatan.

Tentu sangat malu jika saya tidak mampu membuat tulisan yang dapat dibaca semua kalangan. Banyak nasehat dari teman-teman yang telah menerbitkan tulisannya menjadi buku. Selain dapet honor (tambahan uang saku) juga namanya pun sekarang amat terkenal walaupun itu hanya penerbit indie.

Saya tak mau kalah. Mungkin hasrat yang terlalu besar ini akan semakin mencekikku jika tak segera tersalurkan.

Hampir tiap hari berbagai buku kerap menjadi teman dekat (emang kamu ga punya gebetan). Kubaca dan mencari-cari permasalahan tertentu yang kiranya dapat saya analisis dari beberapa teori maupun konsep yang ada dalam buku yang terlahap.

Wah, ternyata menuangkan ide/gagasan dalam bentuk tulisan sulitnya bukan main. Padahal kalau saya ngomong sok ceplas-ceplos, seolah kaya air grojogan. Letak kesulitan bukan masalah tema dan ide menarik ga untuk dibaca orang. Melainkan dari mana kita akan memulainya. Kata apa yang harus saya pilih untuk mengawali sebauh paragraph. Lalu nyambung ga sih hubungan antarkalimat dan antarparagraf yang saya bangun.

Kadang juga hambatan penulis pemula tidak hanya di situ saja. Kebanyakan penulis pemula ini penya penyakit aneh. Ia selalu memandang penulis-penulis terkenal, yang sudah punya perbendaharaan kosakata kata yang banyak sekali. Pinginnya sekali nulis minimal 3 halaman, spasi satu lagi. Weleh-weleh, berapa sih buku yang ia lalap.

Ketiga kadang penulis pemula tidak bangga akan identitas diri sendiri. Bahkan tidak hanya gaya penulisan, idepun ia harus mengikuti/meng-imitasi penulis yang udah terkenal. Aduh biyung, masak baru kelas teri ngukur dirinya kaya penulis terkenal, bukunya yang dah best seller aja.

Saya pun sempat seperti itu. Satu tahun pertama di lembaga jurnalistik kampus, saya hanya nulis dua kali saja. Itupun seperempat dari newsroom yang disediakan. Ketok cilik banget, mungkin ga ada yang baca. Pada saat itu tulisan yang masuk dalam kategori hardnews dan straightnews. Cukup mengikuti aturan penulisan jurnalistik yang baku (5W+1H) selesai. Tapi konsekuensinya tulisan terasa garing. Bahkan sepat saya bikin seperti pers realize. Masyaallah…!

Mental gatutkaca dan jurus badak gila harus tetap dilakukan. Tahan banting dan bermuka tebal anti malu wajib hukumnya. Tahun pertama, saya tergolong merupakan redaksi baru yang lamban perkembangannya. Teman-teman seangkatan wah luar biasa. Mereka lumayan produktif dan kreatif dari segi ide dan variasi gaya tulisan.

Saya hamper saja patah arang, redaksi baru hanya ngisi du tulisan dalam dua edisi. “Sungguh terlalu”, (kata Bang Haji). Saya akui rekruitmen awal, semua redaksi baru wajib mengikuti diklat jurnalistik selama satu minggu hari, (seingat saya). Lha wong orang super cuek alias siji dewe, akhirnya saya ga ikut. Dampaknya saya tidak dapat tim untuk liputan, tepaksa liputan sendiri, nulis-nulis sendiri, tidur pun sendiri. Lho ko ngelatur nyanyi lagu Chacha Handika, padahal saya ga penggemar dangdut. Sok modern, liat saja kalo dikamar sendiri dengar alunan musik dangdut pasti pantat komat-kamit. Bahkan saya seperti jadi asing demngan teman-teman redaksi yang lain. Ya udalah memang nasib saya harus sendiri.

Jadi Pemberontak

Permasalahan tidak sampai di situ. Saya punya tanggung jawa moril karena dah menjadi warganegara yang mendedikasikan diri sebagai pelayan pemuas nafsu informasi dan isu warga kampus. Di sisi lain pingin unjuk gigi bahwa dengan sendiri pasti bisa. “Slogan SBY-JK itu duplikat dari saya itu” (aku yang narsis).

Sebelum saya melanjutkan cerita, ada sebuah pesan dari journalism. Journalism mempunyai subtansi menyampaikan informasi dan memberikan ulasan bukan ajakan (persuasi). Ketiak ada tulisan, berita dan ulasan semata-mata paparan. Entah nanti dampak dari isi dari karya journalism itu pahala dan dosa kita serahkan pada yang di atas. Dan juga bagaimana cara pembaca/khalayak menyikapinya.

Vakum setahun dari lembaga jurnalis kampus, lantas tidak membuat jadi orang tanpa aktivitas. Untuk sementara mengistirahatkan usaha adaptasi yang butuh perjuangan keras. Tetapi satu prinsip yang terus saya pegang, jangan sampai selekasi alam itu memakan korban saya.

Kuliah menjadi agenda rutin dan wajib saya ikuti. Soalnya ketat banget kampus milik pemuja simbol matahari menerapkan presensi 70 persen kehadiran. Kejam banget. Jiwa pemberontakan lahir dimulailah dari situ. Mengapa sih kebijakan itu harus diberontak? Banyak alasan yang tidak logis dan punya hubungan yang signifikan terhadap prestasi mahasiswa atau pun dalih penciptaaan iklim akdemik yang sehat di kampus.

Orang awam/ pengamat pendidikan boleh lah bilang itu langkah yang baik, hitung-hitungan secara teoritis. Bagi saya dan beberapa teman yang se-ideologi mengatakan tidak (baca dengan suara lantang). Mengapa demikian?

Perilaku social dalam konteks interaksi social bukanlah angka matematis dan sudah terajawab dengan teori baku. Oke, memang ada paradigma epistemology sebuah disiplin sosial yang mengatakan bahwa gejala sosial itu bisa bersifat kuantitatif karena punya kejegan. Bagi saya keajegan memang benar adanya. Tetapi keajegan itu mempunyai keunikan tersendiri karena motif, latar belakang dan konsisi lingkungan social yang berbeda.

Presensi 70 persen mungkin mutlak bagi pelajar/kaum didik pada disiplin dan tingkatan pendidikan tertentu. Oke lah 70 persen tapi itu merupakan sangsi moral saja. Kalau jika tidak memenuhi kuota kehadirran kuliah sampai seperti itu namanya pemaksaan. Dampak bukan positif tapi justru jadi boomerang bagi kualitas iklim akademik itu sendiri.

Bagi mahasiswa kuliah bukan merupakan kewajiban melalinkan kebutuhan. Dari awal ia kuliah, jadi kebutuhanya ya belajar. Dan masuk kuliah itu sudah menjadi fitrah. Tetapi kan tidak harus dikuatitatifkan. Faktanya, banyak teman-teman masuk kuliah bukan mengejar ilmu yang disampaikan pada perkuliahan, melainkan mengejar tandatangan presensi. Justru ini menjadi kontra produktif dari tujuan awalnya.

Pada waktu itu tiap kelas diisi 60-50 mahasiswa, apa yang terjadi? Satu sampai empat kali pertemuan kelas terisi penuh kehadiran mahasiswa. Setelah itu mereka gentian titip tanda tangan.

Alangkah baiknya, sebuah ;lembaga pendidkan tidak usah membuat indicator kuantitatif yang terlalu represif. Batasan kehadiran tidak menjadi acuan prioritas dalam perkuliahan. Tapi jika perpustakaannya ramai dikunjungi, banyak kelompok diskusi dan riset, seminar publik kerap diselenggarakan, kompetisi akademik baik kegiatan UKM maupun karya ilmiah tinggi tingkat partisipasi, justru ini menunjukkan indikator iklim akdemik yang sehat.

Dari mana seorang pelajar cerdas dan peka hanya dari presensi. Sementara perpustakaan kosong, tidak ada gairah diskusi, minim karya dan gerakan kreatif. Di lain sisi dosen mengajar cukup penjadi peraga silabus yang dah disediakan dan menyuruh mengumpulkan tugas, sementara ia lebih semangat ngobyek di luar. Ada yang jadi artis, jadi peneliti opurtuniti (bikin proposal karena ngejar dana hibah, tau-tau beli mobil dan punya rumah mewah. Kalau perlu wayoh). Dah biaya kuliah dan sekolah mahal tapi tidak ada jaminan mutu. Itulah potret lembaga pendidikan saya, dan mungkin juga fenomena itu berlaku di hampir semua lembaga pendidikan, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Lembaga pendidikian ibarat barang komoditi (dagangan) yang mempetaruhakan topeng citra-nya yang sudah kadong apik (balelo banget yo).

Itulah yang membuat saya lari sementara ke gerakan mahasiswa. Kalau hanya koar-koar sendiri bisa kehabisan suara. Dan bsia saja mengalami pemakzulan/ recall/pergantian antarwaktu (PAW). Weleh kaya jadi anggota dewan saja. Enak kalau saya berokoar-koar melalui gerakan mahasiswa, mesti lumayan diperhatikan dan ada yang dukung. Kurang lebih bertahan dua tahun.

Iseng mau Buka Youtube malah Tertawa

Begitu penat kehidupan kampus yang cenderung datar, stagnan, hipokrit dll, saya mencari tempat pelampiasan. Dari pada pikiran sumpek, mumet dan klieng-klieng trus jemblug mending pegi ke warnet.

Biasa cah lanang ki golekane dan hiburane wis podho ngertine lah (pengertian antarjampemete). Cari warnet yang cepat aksesnya, karena ini buka situs dengan konten aneka satwa liar maupun jinak ada di situ. Buka aja situs Youtube. Uwis telung jam ra kroso (dikit, cuma habis Rp. 9000,-). Murah ekonomis kepuasan terjamin. Bawa flashdisk atau eksternaldisk “sent to”, putar sendiri di kamar kos. Terbawa sampai tidur.

Itu masih wajar seorang dalam stressing tingkat tinggi ia alihkan ke situ. Banyak teman-teman lain yang menempuh jalur ekstem sebagai problem solving-nya. Entah itu narkoba, dugem, minum-minuman keras, bahkan samapi freeseks dll. Hal itu mudah saja ditempuh di Jogja ini. Gaya hidup perkotaan modern mirip New York telah menyediakan itu semua di Jogja. Dan secara sosiologi, interaksi masyarakat Jogja ini dibangun oleh kawula muda. Jadi penilitian Iip Wijayanto bisa jadi merupakan sebuah realitia Jogja saat ini. Namun tingkat akurasi, realibiliti dan validiti perlu diuji.

Kita dapat melihat secara kasat mata untuk menganalisa tentang dinamika interaksi yang dibangun masyarakat Jogaja saat ini. Kehidupan mall dan malam insomnia ekstasi lebih semarak daripada kehidupan yang beriklim akademi dan beradab.

Hasrat untuk bisa menulis dengan baik dan menarik masih menjadi semangat hidup. Berdasarkan kemapuan realitas dan ideal, hanya inilah potensi sekaligus kekuatan ketika saya menutuskan dan menempuh jurusan ilmu hubungan internasional. Hampir saya belajar tentang teori-teori high politic dan low politic, dan itu lebih deteminan pada penguasaan pengetahuan dan pemahaman sejarah. Dan yang paling mutakhir mempelajari ideologi dan isu/wacana internasional. Artinya karakter yang dibangun dalam displin ilmu hubungan internasional menjadikan mahasiswa mampu untuk medskripsikan, menganalisa, memprediksi dan membuat preferensi atas fenomena sosial baik nasional dan internasional.

Otak dan nurani seakan terus menguap, seolah mempercepat laju kereta diskrusif. Baca koran dan cepat update buku (shopping) menjadi mutlak. Udah, ga baca koran dan baca buku dalam tempo satu minggu, mungkin anda bisa dianalogikan seperti petualang kehilangan kompas. Lhonga-lhongok….. (tulalit 3x, ngekngok).

Data-data yang terkumpul ini sekan satu sama lkain saling mendesak untuk keluar. Kepala semakin panas setelah melahap isi koran. Hati resah, sulit tidur, isinya cuma cungkir balik ga jelas apa yang dipikirkan. Keresahan hebat melanda, insomnia kesepian seolah jadi potret baru kamar. Gimana pacar ga punya, trus juga dah sepet lihat tapang teman-teman yang makin ga jelas ketika menjelang tanggal 20-an ke atas.

Tanpa diduga salah seorang dosen mata kuliah tertentu memberikan tugas makalah. Minggu depan makalah tersebut langsung dipresentasikan. Dalam hati, ini adalah kesempatan untuk mengungkapkan dan mengeluarkan isi kepalaku. Dengan ‘pede’ rangkaian kata mengalir deras bak air dari gunung. Tempo semalam makalah tersebut selesai dengan pas lima halaman. Betapa senang hatiku, melihat tulisan yang sebegitu banyaknya. Baru kali pertama saya menulis sebanyak itu.

Keesokan harinya dengan langkah optimis, seperti Olif mau menyatakan cintanya ke Asri. Ia ga sadar kalo Si Asri yang merupakan bunga kampus juga ditaksir banyak mahasiswa lain. Termasuk sahabatnya sendiri. Saat ditanya dosen, siapa yang mau presentasi duluan? Dengan lantang, “saya Bu”. Tidak usah saya gambarkan saat presentasi. Tetapi dijamin dapat apresiasi yang luar biasa, baik dari dosen dan teman-teman mahasiswa. Maklum kompetisi untuk menerapkan watak anatomi gathukaca dan jurus badak gila masih sangat rendah. Paling gak satu kelas hanya beberapa mahasiswa yang selalu dominan menguasi forum kelas. Kondisi itu berlajut hingga semester enam. Bayangkan saja stagnan, datar dan garing tanpa ada perlawanan yang berarti.
Namun ke-‘pede’-an itu menjadi drama yang membalikan keadaan ketika kumpulan makalah dan tulisan lain saya sisipkan ke media kampus maupun kirim ke media bisnis. Ternyata tulisan itu menduduki ratting rendah, tapi ga redah amat. Kronis ketika tak satupun tulisan yang terkirim ke media cetak : Kompas, KR, dan Bernas tidak ada satu yang dimuat. Sungguh mengiris hati.

Masih di warnet untuk sent to membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Video itu tidak saya putar di warnet tsb.melainkan nunggu sampai rumah. Biar rasa penasaran dan hasrat semakin tinggi. Iseng-iseng sambil nunggu saya buka saja blog milik salah satu redaksi senior lembaga jurnilisk tempat ku bernaung.

Terbukalah donlenon.blogspot.com. Bahak tawa ini seakan tak terbentung lagi dengan tulisan, artikel, feature, dan gambar unik yang ditampilkan. Apalagi blog itu ber-design apik dan interaktif, lain daripada yang lain. Saya merasa refresh malam itu. Dapat video syur, juga dapat banyolan pedas dan jenaka gaya slank Jogja yang jarang-jarang muncul selain Kelik.

Gara-gara kejadian semalam itu, memuat saya sadar bahwa untuk menulis perlu sebuah methode atau cara pendekatan terhadap kapasitas dan kemampuan diri. Selain itu juga melihat segmen pembaca.

Tulisan lucu, slengehan, dan penuh banyolan bukan berarti tanpa nilai dan tidak serius. Justru itu, telawat karya yang interaktif itulah pesan dapat sampai kepada pembaca. Meski dengan tertawa. Ha..ha..ha.haaaaaa….

“Selamat tertawa dan hidup manusia yang mendedikasikan diri untuk selalu tertawa”

(Hahahaha…!!!)

To be continue……

Politik Dan Aku (Bisikan Hati Nurani Baik ataukah Salah)


Pada Pemilu 2009 mendatang PDP dianggap partai yang paling layak dan representatif memimpin. Mengapa? Berdasarkan berbagai lembaga survey seperti PusDeHam Unair dan IndoBarometer yang menyebutkan PDP adalah partai baru paling populer. Hasil survey dua lembaga penelitian yang kredibel itu serta merta mendapat pembenaran di lapangan. Lihat saja ketika gerak jalan dan berbagai acara PDP, ratusan ribu pendukung dari berbagai lapisan masyarakat berdatangan. Karena kecintaan dan harapan mereka pada PDP.

Sekretaris Pelaksana Harian Pimpinan Kolektif Provinsi Partai Demokrasi Pembaruan (PKP PDP) DI Yogyakarta Drs. Mustiko Laut menyebutkan PDP memang layak dikategorikan sebagai partai paling populer, bukan hanya populer, tapi partai alternatif pilihan rakyat sekaligus pengganti partai lama.

“Parpol lama itu tidak sadar kalau rakyat sudah tidak percaya. Dari setiap periode pemerintahan yang dikuasai partai lama terbukti gagal menyejahterakan rakyat. Justru hidup mereka bertambah susah seiring naiknya harga bahan pokok dan kesulitan mencari lapangan pekerjaan,” papar Mustiko beberapa waktu lalu.

Lanjut dia, adanya partai baru seperti PDP adalah yang terbaik dari sekian Parpol yang ada. Misalnya, dilihat dari sisi pembaruan politik, jauh sebelum partai ini terbentuk gagasan pembaruan politik sudah terformat sedemikan modern dan sangat demokratis. Corak kepemimpinan kolektif yang dibangun dari dalam internal partai makin tumbuh dan mengakar.

Diharapkan sistem tersebut menjadi therapy penyakit yang menggerogoti partai seperti budaya feodal, money politik dan konflik. Semua kepentingan partai harus berdasarkan kolektif kolegial, gotong royong, berbasis kompetesi, bersih dan peduli. Karena itu, jika kader terbiasa dengan pola yang dipakai dalam partai, maka out put-nya akan berdampak positif bagi bangsa dan negera. Karena itu, tidak salah jika lembaga survey menobatkan PDP sebagai partai yang terpopuler dari partai baru lainnya. Sebab belum apa-apa partai yang berlogo banteng berkiprah ini sudah diminati dan dikenal rakyat sebagai partai wong cilik sejati.

Aku Berpolitik
Menarik membaca tulisan M Jais Rambong (MJR) dengan judul ”Mempertanyakan Peran Mahasiswa” di Opini Serambi Indonesia, (4/7/07). Sebagai mahasiswa mungkin MJR telah mengalami apa yang diungkapkannya. Di satu sisi mahasiswa harus berperan sebagai agen perubahan, namun disisi lain mahasiswa harus berhadapan dengan sistem akademik yang lebih mementingkan target ketimbang peran dan kualitas mahasiswanya. Ditambah lagi mahasiswa harus mempertanggung jawabkan kegiatan kuliah kepada orang tuanya.

Namun ungkapan JRM, bahwa mahasiswa sekarang telah disibukkan oleh kemodernan zaman, seperti berceria diwarung kopi, Cafe-cafe dan berleha-leha di jalan-jalan merupakan realitas yang harus diakui. Maka tidak mengherankan bila mahasiswa sebagai kaum intelektual yang punya tanggung jawab kepada masyarakat dan bangsa berubah menjadi kaum oportunis yang hanya memikirkan kepentingan dirinya saja.

Sebenarnya banyak peran yang dapat dimainkan oleh mahasiswa sebagai kaum Intelektual serta yang bertanggungjawab kepada masyarakat?. Terutama memperjelas tujuannya kuliah. Apakah kuliah hanya untuk mencari kerja atau mencari ilmu?. Mungkinkah mahasiswa ”Belajar sambil berjuang dan berjuang sambil belajar” seperti terukir di Tugu Simpang Mesra?.

Pada dasarnya peran yang harus dimainkan oleh mahasiswa adalah kembali kepada Tri Darma Perguruan Tinggi (TDPT). Yaitu, Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Tetapi selama ini ada kesalahan dalam memahami TDPT. Banyak mahasiswa memahami TDPT secara hirarki bukan secara universal.

Bila TDPT di pahami secara hirarki, maka otomatis mahasiswa hanya berkewajiban untuk menyelesaikan pendidikan dulu di Perguruan Tinggi (PT), setelah itu baru berpindah ke level kedua yaitu Penelitian. Sedangkan Pengabdian dianggap sebagai level terakhir setelah mereka selesai kuliah.

Padahal pengabdian tidak harus menunggu selesai kuliah. Membela dan memperjuangankan kepentingan rakyat ketika masih kuliah, juga bagian dari pengabdian. Jadi pengabdian bukan hanya mengajar seperti Guru atau bekerja di kantor pemerintah saja. Tetapi terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan umum, juga bagian dari pengabdian.

Karena tuntutan akademik pula, banyak mahasiswa kadang malas berorganisasi. Bila berorganisasi mereka takut terganggu kuliahnya. Padahal di organisasi, kesempatan untuk mengabdi sangat terbuka. Tidak mengherankan bila yang sibuk di organisasi secara penuh berakibat terlambat selesai kuliah. Ada juga yang mampu menyelesaikan kuliah sesuai dengan target. Namun semua itu sangat tergantung dalam pengaturan waktu.

Walaupun demikian, kualitas mahasiswa yang berorganisasi jauh lebih baik bila dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak berorganisasi. Karena mahasiswa yang berorganisasi, mereka mendapatkan ilmu lebih di organisasi. Banyak hal yang dipelajari di organisasi tetapi tidak didapatkan dibangku kuliah. Disinilah letak kelebihannya.

Banyak pula mahasiswa yang aktif di organisasi tetapi kurang mendapat perhatian dari pihak Fakultas maupun Universitas. Misalnya, ketika mengikuti kegiatan organisasi keluar daerah, mahasiswa dengan bangga membawa nama Fakultas, Universitas dan Daerah.

Tetapi ketika kembali ke Fakultas, ternyata Dosen tidak memberi konpensasi selama mengikuti kegiatan tersebut. Padahal mahasiswa membawa nama Fakultas, Universitas dan Daerah. Hal seperti itu sering dialami sejumlah mahasiswa.

Seharusnya ada perhatian terhadap mahasiswa yang ikut kegiatan kemahasiswaan di luar daerah. Karena mereka pergi mewakili Fakultas, Universitas dan Daerahnya. Jadi sangat pantas di beri konpensasi. Bukan justru dipersulit dan disalahkan gara-gara mengikuti kegiatan tersebut.

Namun sangat berbeda ketika Dosen nyambi di luar (meminjam istilah MJR). Dengan mudahnya kegiatan kuliah ditiadakan atau diberi tugas membuat makalah, Paper dan Resume. Dosen tinggal bilang, ”Ini buku wajibnya, pindahkan isi buku kedalam bentuk Makalah, Paper atau Resume”. Suatu perintah yang sangat gampang di ucapkan tetapi sangat membosankan bagi mahasiswa, karena hanya bertugas untuk memindahkan saja.

Aktivis Musiman

Ungkapan ”Aktivis musiman”, terinspirasi dari tulisan Eep Saifullah Fatah tentang ”Oposisi Musiman” di salah satu media nasional. Istilah Oposisi Musiman, muncul sebagai tanggapan atas pro-kontra hak interpelasi di DPR RI.

Namun dalam dunia pergerakan mahasiwa dan berbagai aktivis saat ini. Ada kebiasaan baru dalam memulai aksinya. Seperti peringatan hari buruh, lingkungan hidup, Pendidikan, HAM, AIDS dan lain-lain. Ketika memperingati momentum-momentum tersebut, berbagai aktivis turun kejalan mengelar berbagai aksi. Habis momentum pudarlah aksi dan realisasinya.

Padahal pergerakan mahasiswa tidak hanya sebatas itu. Aktivis mahasiswa dan aktivis lain perlu menempatkan posisinya sebagai pengontrol dalam berbagai persoalan. Agar setiap kebijakan pemerintah tidak merugikan kepentingan umum. Peran yang berkelanjutan menjadi bukti, bahwa peran kontrol mahasiswa masih aktif.

Kalangan aktivis perlu mengawasi tindakan perusakan hutan setiap waktu, tidak harus menunggu hari lingkungan hidup atau peringatan hari-hari yang lain. Karena fungsi sosial kontrol tidak mengenal momentum. Kapanpun ada ketidakberesan maka fungsi tersebut bekerja secara cepat.

Kebiasaan ini bukan hanya terjadi dikalangan aktivis tetapi sudah menjadi tradisi di Pemerintahan. Lihat saja ketika hari lingkungan hidup, semua kantor dinas dihiasi dengan spanduk tentang lingkungan hidup. Mulai Presiden sampai camat, ikut mencanangkan penghijaun dengan ribuan pohon. Selesai serimonial, besok atau lusa giliran kambing atau lembu yang memakan tanaman tersebut. Karena kegiatan penghijaun hanya sebatas seremonial tahunan saja, ia tidak berlanjut sampai membuahkan hasil yang bermanfaat.

Padahal banyak hal yang memerlukan peran mahasiswa di dalamnya. Sebut saja dengan tugas rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Mahasiswa perlu mengawasi agar rekonstrusi tidak menjadi lahan memperkaya diri. Tidak perlu menunggu momentum tsunami atau ulang tahun BRR.

Kedepan mahasiswa perlu berperan lebih banyak lagi dalam berbagai persoalan. Fungsi kontrol perlu menjadi seragam harian mahasiswa dan para aktivis lainnya. Bukan seragam musiman. Jika hanya sebatas seragam musiman, berarti mahasiswa dan aktivis lainnya sama saja dengan aktivis musiman. Karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat. Masa depan negeri ini sangat membutuhkan keterlibatan mahasiswa dengan pemikiran cemerlangnya dan aksi-aksi yang sesuai dengan aturan.

Konsep Idealisme


Seiring pergeseran matahari dari ufuk timur menuju senja, zaman ikut berubah. Setiap zaman pasti ada masalah sekaligus ada pahlawannya. Begitu juga pada zaman ini. Pada saat ini ada lima grand issue atau acuan dasar gerakan mahasiswa Indonesia. Antara lain, seputar Orbaisme; Liberalisme; Pendidikan; Disintegrasi Bangsa; Korupsi. Adapun, format gerakan mahasiswa ke depan adalah gerakan massa dan gerakan intelektual (intellectual movement). Sebuah gerakan massa hanya akan menjadi sebuah retorika ketika mahasiswa tidak mengolah budaya ilmiah dalam mengapresiasikan pemikiran dan idealismenya. Budaya ilmiah dapat dilakukan dengan gerakan intelektual (intellectual movement). Pada saat ini para aktivis pergerakan mahasiswa semakin sadar perlu menegedepankan nuansa intelektual ketika bergerak dalam menuntaskan perubahan.



Secara hakiki, gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual—jauh dari kekerasan dan daya juang radikalisme. Mengingat, gerakan ini bermuara dari kalangan akademis kampus—cenderung mengedapankan rasionalitas dalam menyikapi pelbagai permasalahan. Dalam perspektif ini, gerakan intelektual (intellectual movement) akan terbangun di atas Trias Tradition (tiga tradisi).


Pertama, terbangun diatas tradisi diskusi (Discussion Tradition). Gerakan mahasiswa harus memperbanyak ruang diskusi—pra-pasca pergerakan. Diskusi akan membawa gerakan mahasiswa menjadi sebuah gerakan rasional dan terpercaya—ciri khas gerakan mahasiswa. Lantaran itu, elemen masyarakat secara umum akan lebih menghargai isu-isu diusung oleh gerakan mahasiswa. Seperti dalam menurunkan demonstrasi, elemen gerakan mahaiswa harus mengkaji lebih detil—apa, mengapa, akibat dan latar belakang—kebijakan pemerintah harus ditentang. Dari kajian-kajian dalam bentuk diskusi lepas dengan mengundang para pakar dibidang-bidang berkaitan dengan agenda aksi, akan mampu melahirkan gagasan-gagasan dan analisa cemerlang. Hari ini, aktualisasi dan keakuratan data sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam mengkritisi dan bertindak. Sebagaimana kita ketahui zaman semakin maju sehingga dalam mengungkap sesuatu atau menghujam kritik harus berdasar, jelas, akurat dan terpercaya, tanpa itu sulit bagi gerakan mahasiswa dalam menyakinkan rakyat dalam menyalurkan aspirasi.


Kedua, terbangun diatas tradisi menulis (Writing Tradition). Aktivitas menulis merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi gerakan mahasiswa. Sejak dulu sampai kini, tokoh dan intelektual bangsa Indonesia—bernotabene mantan tokoh aktivis pemuda dan mahasiswa, banyak melemparkan gagasan atau ide-ide cemerlang, kritikan tajam dan membangun wacana dalam bentuk tulisan. Sebut saja nama tokoh-tokoh populer seperti, Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir—era pra kemerdekaan; Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Deliar Noer, Hariman Siregar, Arief Budiman—era 60 sampai 80-an; Anas Urbaningrum, Eef Saefulloh Fatah, Kamarudin, Andi Rahmat (era 90-an) dan lain-lain. Bila kita balikkan ke pergerakan mahasiswa, mendukung dan menggalakkan melemparkan isu-isu lewat tulisan perlu perhatian serius. Karena, mewacanakan isu-isu melalui media cetak dapat dibaca oleh kalangan lebih luas—dalam artian lebih efefktif untuk menyebarkan gagasan atau wacana ke seluruh pelosok persada nusantara, bahkan sampai manca negara.


Hal ini bersinergi dengan peran mahasiswa Indonesia, meminjam istilah Michael Fremerey (1976) "Gerakan korektif", selain diorasikan melalui mimbar bebas dalam aksi demonstrasi juga dapat diwujudkan bagi tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa dalam bentuk tulisan di media massa. Lebih jauh, dalam buku Bergerak! (Peran Pers Mahasiswa dalam Penumbangan Rezim Soeharto) Satrio Arimunandar mengemukakan bahwa gerakan mahasiswa di Indonesia tak bisa lepas dari dukungan penuh media massa untuk menggapai hasil maksimum dalam perjuangan.
Sebagai misal, momentum penurunan rezim Orde Lama (ORLA), gerakan mahasiswa di dukung koran mahasiswa populer "Mahasiswa Indonesia" atau ketika gerakan mahasiswa menurunkan rezim Orde Baru (ORBA) di dukung penuh Buletin Bergerak (Media Aksi Mahasiswa UI), dalam menyebarkan seputar agenda atau wacana gerakan mahasiswa. Hal ini penting, untuk membangkitkan naluri mahasiswa dalam perjuangan menumpas kezhaliman dan kebatilan.
Angin segar bagi pergerakan mahasiswa, akhir-akhir ini tulisan-tulisan tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa (Ketua Umum Organisasi Kemahasiswaan atau Pemuda, Presiden Mahasiswa dan lain-lain) pernah menghiasi media massa, seperti Mamanto Fani (Ketua Umum KAMMI Daerah Sumbar 03-05) 'Mahasiswa Aceh Kembalilah'—24 februari 2005; Indra Kusumah (Presiden BEM UNPAD 2005/2006) 'Politisi Mahasiswa'—majalah SAKSI 16 Oktober 2005;
Selain itu, Yuli Widy Astono (Ketua Umum KAMMI Pusat 2005-2007) 'Nasionalisme Indonesia (Tawaran Membangun Trend Baru Gerakan Mahasiswa)'—majalah SAKSI 12 Oktober 2005; Azman Muammar (Ketua Umum BEM UI 2005-2006) 'Demokrasi Diambang Batas'—majalah SAKSI 28 September 2005; Irwan Suwandi SN (Presiden Mahasiswa UNAND) 'Orang Miskin Dilarang Sekolah'—Majalah SAKSI edisi Februari 2006; dan lain-lain.
Menyikapi hal diatas, tulisan-tulisan para tokoh aktivis pergerakan mahasiswa (Ketua Umum Organisasi Kemahasiswaan atau Pemuda, Presiden Mahasiswa dan lain-lain) tersebut sangat berarti dan berpengaruh bahkan bisa menjadi acuan bagi pergerakan mahasiswa Indonesia.


Ketiga, terbangun diatas tradisi membaca (Reading Tradition). Aktualisasi isu sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam bergerak. Begitu cepat pergeseran berita dan opini publik, memaksa kita untuk senantiasa membaca—kalau tidak akan tertinggal. Kesibukan bukan alasan tepat untuk tidak membaca, di mana atau kapan pun bisa kita luang waktu untuk membaca—antri mengambil karcis, di bus, menjelang demonstrasi dan lain-lain.
Sebuah harapan, gerakan mahasiswa juga bisa mewacanakan semacam 'Gerakan Gemar Membaca" dan disosialisasikan secara luas. Cara ini, dapat menunjukkan gerakan mahasiswa ikut membantu pemerintah dalam membuka kunci gembok kebodohan serta berperan menyelesaikan problem pendidikan Indonesia nyaris tak kunjung terselesaikan ini. Mudah-mudahan orientasi gerakan mahasiswa mengusung isu intellectual movement dengan jargon Trias Tradition—Discussion; Writing; Reading—ke depan (babak baru gerakan mahasiswa tahun 2006) akan mampu menghantarkan gerakan mahasiswa menuju mimbar kehormatan.

Paham Orthodox Secara Umum ??
Suatu saat saya pernah membaca di milis ttg cara pandang Ali Sadikin dalam menyikapi kasus legalisasi judi di masa kepemimpinanya 1966-1977. Ketika ditanya ttg persoalan judi dan konsekuensi keagamaan, Ali justru menanggapi sikap-sikap kaum agama dengan pandangan rasional dan menantang. Ali juga menganggap kelompok-kelompok politik berbasis agama sebagai kelompok opportunis yang hanya mengambil kesempatan dan popularitas politik.
Saya tidak melihat sisi kontroversial dalam melihat kasus judi, tapi saya melihat gaya dan sikap Ali Sadikin adalah sikap seorang yang benar-benar diwarisi cara pandang Jawa yang sedikit banyak berjarak dengan Islam orthodox, dan kejadian ini sebenarnya memiliki sejarah yang panjang dalam konflik politik di Jawa. Ali Sadikin seorang turunan bangsawan Sumedang, yang merasa memiliki kaitan masa lalu dengan Kerajaan Pajajaran yang hindu, merupakan gambaran jelas posisi bangsawan-bangsawan Jawa dalam memahami Islam. Islam di Jawa, tidak seperti di Sumatera atau semenanjung Melayu, tidak pernah sepenuhnya masuk sebagai bagian budaya dominan. Masuknya Islam ke Jawa dan melakukan sebuah gerakan-gerakan politik kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak Bintoro, Cirebon dan Banten, dan menghancurkan kerajaan-kerajaan lama seperti; Pajajaran, Majapahit, Blambangan bahkan mampu membuat eksodus orang-orang Majapahit-Daha untuk lari ke Pulau Bali. Kejayaan Kerajaan dengan basis Islam-Orthodox sebenarnya hanya berlangsung lama di Banten, hal ini bisa terjadi karena Sultan Banten memiliki dukungan dari para Ajar (pemimpin-pemimpin rakyat) yang sedari awal memang tidak menyukai Pajajaran. Sementara di luar Banten Islam-Orthodox tidak bisa bertahan lama secara politik, tanah Priangan dan Cirebon keburu di kuasai Mataram sehingga tidak bisa menerima Islam Orthodox dan berkembangnya kekuasaan VOC Belanda, dan banyaknya kantor-kantor dagang Eropa yang menyurutkan penyebaran Islam lebih luas lagi ke dalam sistem budaya Jawa.

Islam Orthodox yang berpusat di pesisir-pesisir pantai, mengalami kekalahan paling telak ketika mulai berkembangnya kekuasaan Mataram-Islam di bawah Panembahan Senopati. Panembahan Senopati adalah putera Ki Gede Pemanahan, nama kecil Panembahan Senopati adalah Sutowijoyo, Sewaktu kecil ia diangkat anak oleh Sultan Hadiwijoyo alias Jaka Tingkir. Ketika berumur 16 tahun Sutowijoyo di perintahkan oleh Sultan Hadiwijoyo untuk membunuh musuh bebuyutannya, Pangeran Aryo Penangsang putera dari Pangeran Sedo Lepen, Sedo Lepen adalah pewaris sah tahta Demak, yang kemudian akibat intrik politik kekuasaan Demak berpindah tangan ke Hadiwijoyo yang mendirikan kerajaan di Pajang (Utara Solo). Sutowijoyo akhirnya berhasil menghabisi Pangeran Aryo Penangsang, dan oleh Sultan hadiwijoyo, Sutowijoyo dihadiahi tanah luas di daerah hutan Mentaok, oleh Sutowijoyo hutan itu dibuka dan kemudian didirtikan suatu wilayah bernama Mataram. Lambat laun Sutowijoyo mengangkat dirinya sebagai adipati yang otonom terhadap kekusaan Pajang, dan puncaknya Sutowijoyo mengumpulkan 55 Bupati di seluruh Jawa untuk melawan Hadiwijaya, dan akhirnya Hadiwijoyo kalah, ia tewas jatuh dari Gajah tunggangannya ketika bertempur melawan Sutowijoyo. Dan Sutowijoyo di tasbihkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati ing Alogo. Gelar Sultan tidak di dapatkan oleh Sutowijoyo karena timbulnya penolakan dari kekhalifahan Turki yang masih menganggap kekuasaan berada ditangan kerajaan Demak dan Pajang.

Pada saat kekuasaan Jawa mundur ke wilayah selatan, maka seakan-akan sudah lepas pengaruh dari kekuasaan-kekuasaan Islam Orthodox atau Islam santri. Sebenarnya pertarungan antara Hadiwijaya dan Aryo Penangsang bisa dilihat juga pertarungan antara Sunan Kalijogo (guru Hadiwijoyo) dan Sunan Kudus (Ayah angkat Aryo Penangsang). Disini Sunan Kalijogo direpresentatifkan sebagai kelompok Islam yang lebih menguatkan kesadaran budaya lokal, dan membangun kekayaan budaya lokal guna memperkuat keislaman orang Jawa, Sementara Sunan Kudus lebih mengedepankan budaya impor (arab) yang juga dimasukkan ke dalam satu paket dengan pola-pola penyebaran Islam di tanah Jawa. Dan akhirnya metode Sunan Kalijogo-lah yang mendapatkan kemenangan di wilayah-wilayah pedalaman, sementara wilayah pesisir masih dipengaruhi oleh Sunan Kudus tapi lambat laun Islam Orthodox gaya Sunan Kudus terdesak oleh hadirnya ratusan kantor-kantor dagang Eropa dan mulai berkembangnya kantong-kantong masyarakat Cina, menyurutkan pengaruh Islam Orthodox di tanah Jawa.

Di wilayah pedalaman Islam kemudian tumbuh sebagai agama kerajaan, namun Panembahan Senopati yang masih memiliki darah biru Majapahit, masih seakan-akan kurang menerima hadirnya Islam dalam sistem budaya. Islam lebih dianggap sebagai alat politik yang penting untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang belum takluk kepada Mataram, dan membangun hubungan dengan ulama-ulama yang mulai berpengaruh di Timur Jawa. Jadi pada awal kekusaan di tanah Jawa pada periode Islam memang adanya jarak antara Islam dengan kekusaan, para satria-satria yang memimpin wilayah Tanah Jawa (termasuk Priangan), masih menganggap mereka adalah keturunan sah kekuasaan Majapahit atau Pajajaran yang memiliki kebduayaan jauh lebih tinggi dari kebudayaan Arab. Kaum ningrat masih sering membandingkan keagungan masa lampau sebagai basis pemahaman bahwa mereka adalah keturunan orang-orang mulia, Borobudur sering dianggap titik kejeniusan orang Jawa thd masa lalu. Borobudur adalah bangunan yang rumit dan lebih indah dari Angkor Wat di Kamboja. Islam bagi kelompok penguasa kemudian tidak begitu mempengaruhi cara hidup mereka, mereka masih dipengaruhi cara-cara berpikir Jawa yang dipengaruhi oleh campuran Hindu, Budha dan Islam Sufistik yang melahirkan filsafat Jawa. Untuk kaum priyayi, filsafat Jawa yang mempunyai gambaran lengkap dalam lakon-lakon wayang orang masih dianggap memiliki tempat yang tinggi, dan kemudian ini dilihat oleh Sunan Kalijogo yang kemudian menciptakan struktur wayang kulit yang tidak sepenuhnya mengadopsi secara sempurna bentuk-bentuk tubuh manusia namun menggambarkan subjek individu lakon itu sendiri.

Kejadian paling buruk dalam hubungan antara penguasa dan umat Islam-Orthodox adalah peristiwa pembunuhan 4000 ulama oleh Amangkurat I (cicit Panembahan Senopati) (1646-1677) yang menuduh para ulama bersekongkol ingin menjatuhkan dirinya. Dan akibat peristiwa ini semakin menjauhkan hubungan antara penguasa dengan Islam-Orthodox yang baru bisa dipulihkan saat Perang Jawa berlangsung di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro di tahun 1825-1830.

Islam hanya bisa berkembang di luar pengaruh-pengaruh kekuasaan yang penuh curiga, Islam banyak berkembang di wilayah-wilayah yang sangat jauh dari pusat-pusat kekusaan Jawa, itulah kemudian banyak dipahami Islam Santri yang kemudian banyak mendirikan pusat-pusat pendidikan (pesantren) banyak berkembang di wilayah timur Jawa yang jauh dari Mataram. Dan sikap kaum santri rata-rata tidak radikal terhadap sistem kekusaan Jawa, mereka menganggap bahwa kekuasaan adalah urusan di luar wewenang mereka.
Para Bangsawan Jawa (termasuk Priangan ) saat kehadiran Belanda di Eropa, sangat terpukau oleh kemajuan Belanda dalam hal ini Eropa, namun mereka juga masih menganggap Eropa sebagai bangsa rendahan, yang sama halnya dengan Cina dan Arab. Mereka melihat bahwa Eropa sangat menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan kebendaan. Dalam pandangan hidup priyayi Jawa, kebendaan adalah hal-hal rendah yang harus dijauhi, sikap manusia harus berpusat pada keluhuran budi yang jauh dari nilai-nilai pamrih, sementara kebendaan menghubungkan manusia pada ketidak jujuran dan sikap pelit. Inilah makanya mayoritas pandangan Priyayi Jawa yang melihat bentuk-bentuk perdagangan sebagai sesuatu yang hina, mereka menganggap pedagang bukanlah pekerjaan mulia, dan wilayah perdagangan banyak diambil oleh orang-orang Cina, Arab dan suku-suku pribumi yang tidak begitu peduli dengan cara pandang Jawa seperti :orang kalang (bekas budak Mataram dari Bugis dan Bali) danorang-orang seberang (suku Melayu, Bugis dan pedagang-pedagang dari Minang). Inilah yang kemudian bisa menerangkan bagaimana orang-orang Jawa merasa lebih mulia untuk menjadi pegawai negeri, militer ataupun penguasa-penguasa wilayah dengan bayaran apapun mereka pasti berusaha mendapatkannya. Dan sebagai sumber dana selain tanah, para penguasa Jawa masa lampau memiliki kroni-kroni Cina yang digunakan sebagai alat untuk membangun perdagangan, dan terbentukalah perdagangan yang tidak fair dimana kekuasaan dan modal bertemu, ini sangat tidak bisa dipahami oleh orang-orang Eropa yang menganut sistem perdagangan bebas (ala smithian), namun lambat laun orang-orang Eropa juga terbawa-bawa dengan cara dagang seperti ini. Para Bangsawan Jawa (juga Priangan) lebih senang dan merasa mulia berkembang di bidang-bidang halus, seperti dunia sastra, (inilah makanya kenapa nama bangsawan dengan nama Sastra banyak digemari, seperti; Sastranegara, Sastraningrat, sastrawijajaya, sastradharsana dll), dunia spritual, dan dunia yang berhubungan dengan kekusaan. Sampai saat inipun para Jenderal, Gubernur bahkan Presiden sekalipun mempunyai kroni-kroni dagang Cina atau asing, seperti Sukarno yeng berkroni dengan Dasaat (arab, pada era Sukarno pedagang-pedagang Cina di habisi oleh kelompok politik Masjumi), Suharto memiliki Liem Sioe Liong, Prajogo Pangestu, Oom Tik (dan banyak sekali kroni Suharto, di era dia puncak kroni terhadap ekonomi timbul), Gus Dur ( Marimutu Sinivasan, dan William Suryawidjaja) dan sebagainya. Setiap Jenderal juga memiliki kroni, dan ini bisa dibuktikan pada sumber-sumber kesejahteraan Angkatan Bersenjata yang banyak disumbangkan oleh pengusaha-pengusaha keturunan.

Islam dalam politik juga tidak akan bisa memenangi pertarungan, Diponegoro yang menggunakan simbol-simbol Islam kalah dalam pertarungan politik dengan penguasa-penguasa Yogyakarta yang dibantu oleh Belanda. Sementara gerakan-gerakan politik Islam yang pada mulanya berhasil menjadi gerakan Rakyat seperti Sjarikat Islam (SI) yang menjelma menjadi kekuatan raksasa di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto, malah kemudian surut diawali oleh di akomodirnya kelompok Komunis (PKI) ke dalam SI , lalu hadirnya gerakan nasionalis yang lebih mengakomodir budaya Jawa ke dalam pemikiran politiknya, Partai Nasionalis Indonesia yang didirikan oleh anak didik HOS Tjokroaminoto, Ir. Sukarno, menjadi simbol terpenting lahir kekuasaan dominan di Indonesia yaitu kekuasaan kaum nasionalis yang sangat memperhatikan struktur masyarakat Jawa dan mengakui peran-peran kaum bangsawan di dalamnya, Sukarno sendiri sering mengaku sebagai keturunan bangsawan dan mengenakan embel-embel raden di namanya. Sementara Komunisme juga hadir dalam pertarungan politik di Jawa, Komunisme atau PKI yang sempat memberontak di tahun 1926 dan membawa implikasi merugikan dalam suasana pergerakan politik pada waktu itu, mengangkat bentuk perlawanan frontal terhadap kekuasaan penjajah dan juga memusuhi kaum priyayi. Disinilah kemudian muncul anggapan di kalangan priyayi bahwa komunisme adalah sebuah gerakan yang akan merusak tatanan. Tatanan masyarakat bagi orang Jawa merupakan fundamental bangunan masyarakat yang tidak boleh rusak, jika diganggu akan menimbulkan kekacauan suasana yang oleh orang Jawa disebut Gonjang-Ganjinge Jaman, atau Disharmoni. Nah, komunisme yang lebih mengangkat pembelaan terhadap rakyat banyak dan tertindas dianggap akan merusak kekuasaan para priyayi.

Setelah kehadiran pasukan pendudukan Jepang 1942-1945 dan Jepang mendidik orang-orang Jawa dalam sekolah-sekolah militer yang tidak elitis, populis dan berorientasi tempur disinilah semangat keprajuritan orang-orang Jawa muncul kembali setelah dihilangkan dengan sistematis oleh penguasa Belanda. Orang-orang Jawa yang medapatkan didikan militer kemudian merumuskan dirinya sebagai kelas baru para priyayi, kelompok militer inilah yang kemudian berkembang menjadi suatu lapisan elite yang kemudian sanggup bertempur dengan anasir-anasir panganggu kebudayaan Jawa. Mereka menafsirkan dirinya sebagai : Nasionalis, Perwira sejati dan Penjaga kemerdekaan Indonesia. Sementara kelompok-kelompok Islam-Orthodox yang berkembang di pesantren-pesantren memilii lasykar-lasykar rakyat bersenjata, namun kemudian oleh Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX di eliminir dalam program rekonstruksi dan reorganisasi (ReRa) di tahun 1948. Bila Kaum santri masih menurut saja dengan pelucutan senjata oleh kaum Nasionalis, tidak halnya kaum komunis yang memiliki pengaruh di kalangan Angkatan Perang, mereka menolak bila lasykar-lasykar sosialis juga di hapuskan, maka timbullah peristiwa Madiun 1948.

Kaum Santri di wilayah barat Jawa, kemudian dimanfaatkan oleh SM Kartosuwirjo untuk melakukan gerakan-gerakan politik yang bernama Darul Islam Indonesia/tentara Islam Indonesia (DII/TII), sebuah Negara Indonesia dengan dasar Islam. Timbulnya DII/TII malah memunculkan ketidaksenangan kelompok elite militer di Jawa Barat (Siliwangi) yang sangat nasionalis merekalah yang kemudian berhasil menangkapi gerombolan tersebut, tapi baru pada tahun 1963 DII/TII baru benar-benar bisa ditumpas (Bandingkan dengan PKI yang mati-hidup antara tahun 1948-1965).

Kelompok Komunis atau PKI yang berkembang pesat di tahun 1950, setelah DN Aidit menyingkirkan orang-orang komunis era Digul, mulai melakukan politik kompromi dengan Sukarno namun benar-benar di tolak oleh militer mereka bahkan terang-terangan mengancam Sukarno untuk melepaskan pengaruh PKI, kelompok militer ini berasal dari luar Jawa, sementara Sukarno masih dianggap dewa oleh kelompok militer Jawa, tahun 1958 PRRI/PERMESTA timbul dan membuat berang Sukarno, maka diperintahkan A Yani untuk menghabisi PRRI/PERMESTA, dan pasukan Yani menang, ini sekali lagi menguatkan bahwa kelompok militer Jawa memiliki keunggulan dengan kelompok militer luar Jawa. Hancurnya PRRI/PERMESTA menegaskan sekali lagi bahwa perwira Militer Jawa berhasil menaklukkan Militer luar Jawa, dan mengambil jarak dengan kelompok Sosialis ala Sjahrir dan Islam Modern Masjumi. Puncak kemenangan militer Jawa adalah peristiwa jatuhnya Sukarno di tahun 1967. Intrik di Angkatan Darat malah berkembang menjadi penghancuran thd dua lawan politik penting Angkatan Darat di era Nasakom, Figur Sukarno dan Partai Komunis Aidit. PKI yang sudah bersiap untuk menyambut pemilu malah takut keduluan akan kudeta Angkatan Darat, mereka melihat para perwira militer mungkin saja terinspirasi oleh kudeta militer di Aljazair tahun 1964. Kekhawatiran Aidit ditambah provokasi dari agen-agen intelijen yang bermain malah menimbulkan tindakan sepihak dari pasukan pengawal Bung Karno untuk menciduk tujuh Jenderal, dan ini malah menyeret PKI sebagai pelaku pembunuhan. PKI dibubarkan, Sukarno dijatuhkan dan kemenangan bagi militer Jawa yang pengaruhnya terasa sampai sekarang.

Pernyataan Ali Sadikin yang bersikap anti pati thd kelompok politik agama ternyata juga memiliki kaitan sejarah yang panjang, sikap Ali adalah cerminan dari begitu berjaraknya kekuasaan thd unsur-unsur lain di luar kekuasaan seperti : Partai Agama, Luar Jawa, Kelompok Sipil bahkan kelompok yang benar-benar di asingkan seperti Partai Komunis

Ngotot Vs Idealisme
jadi kenapa harus ngotot kalau masih punya idealisme yang tinggi ,apalagikan kalau mahasiswa yang di punya dan harta yang tersisa dan paling berharga adalah idealismenya yang mencerminkan dia adalah seorang mahasiswa sejati pesan saya pertahankan idealismemu jangan hanya karena uang dan jabatan raport kalian jadi merah bin jeblok oh yah pesan saya yang muda yang menghormati yang tua dan lebih baik lagi yang tua menghormat kepada yang lebih muda karena generasi muda adalah tumpuan harapan bangsa OK I will Go Sleep!.